Siapa Ahl al-Kitab? Yahudi dan Nasrani saja, atau termasuk Hindu dan Buddha? Perdebatan klasik ini menyingkap tarik-menarik antara teks, tafsir, dan realitas sosial dari masa klasik hingga kini.
Teknologi dan AI memberi jawaban cepat, tapi tak mampu menenangkan jiwa. Di tengah krisis makna dan kesepian digital, agama tetap menjadi pelampung yang tak tergantikan sepanjang zaman.
Kritik Al-Quran kepada Ahl al-Kitab bukan sekadar soal beda iman. Ia lahir dari tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi, yang dibungkus agama, sejak awal sejarah Islam.
Al-Quran menyebut Ahl al-Kitab dengan nuansa beragam: ada yang memusuhi, ada yang lurus. Tafsir Quraish Shihab menekankan: jangan generalisasi. Kritik keras tak berlaku untuk semua.
Persatuan, bahasa, dan keturunan kerap disebut sebagai pilar kebangsaan. Tapi, apakah ketiganya sejalan dengan ajaran Al-Quran? Sebuah tinjauan dari tafsir klasik hingga pemikir kontemporer.
Di tengah riuh perdebatan identitas, satu kata kembali disorot: umat. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang tak habis ditafsirkan.
Tak ada pengecualian dalam hukum sosial Tuhan: siapa pun yang enggan berubah, akan digilas sejarah. Pertanyaannya, kita di jalur yang mana? Berikut ini penjelasannya.
Wahyu pertama bukan sekadar ajakan membaca, tapi proyek sosial: membangun masyarakat adil. Quraish Shihab mengingatkan, Al-Quran bicara banyak soal hukum kemasyarakatan.
Kata roh terulang dalam Al-Quran sebanyak 24 kali. Namun, makna yang menyertainya tidak tunggal. Dalam surat Al-Qadr, misalnya, roh disebut bersama malaikat yang turun di malam Lailatul Qadar.
Dalam perspektif Al-Quran, ia adalah sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Namun, apa tepatnya yang dimaksud sesuatu itu, kitab suci tak pernah menjelaskannya secara gamblang.