Kitab suci ini bukan sekadar kumpulan pujian atau kutukan, melainkan sebuah potret eksistensial manusia dalam kedudukannya yang paling paradoksal: makhluk paling mulia sekaligus paling durhaka.
Pengenalan terhadap manusia tidak bisa hanya melalui pendekatan biologi, psikologi, atau filsafat saja. Harus ada ruang untuk wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang mengarahkan manusia pada hakikat tertingginya.
Allah menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi bukan tanpa tujuan. Alam ada bukan semata untuk ditaklukkan atau dieksploitasi, tapi untuk dijaga dan disyukuri.
Etika adalah tentang kelakuan. Akhlak, lebih dalam dari itu. Ia menyentuh ruang terdalam dari iman, pikiran, dan hati nuranidari relasi manusia dengan Tuhan hingga dengan batu yang tak bersuara.
Lantas, bagaimana meneladani keangkuhan Tuhan, jika angkuh itu sendiri dianggap nista? Di sinilah Quraish menekankan konteks. Bahwa sifat-sifat Allah itu bersifat integral dan tak saling bertentangan.
Nabi membawa risalah bukan dengan senjata atau doktrin kaku, tapi dengan keteladanan yang mewujud dalam perilaku. Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sabdanya.
Nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi.
Orang yang mampu bersyukur, tulis Quraish Shihab, akan memperoleh banyak, lebat, dan subur. Orang yang tidak, hanya akan menutup dirinya pada karunia-karunia Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir.
Banyak anak muda masa kini yang memandang pernikahan sebagai jalan halal untuk menyalurkan hasrat seksual. Tapi benarkah begitu? Apakah seks dan keturunan memang inti dari pernikahan menurut ajaran Islam?
Di tengah perdebatan modern soal kesetaraan gender dan peran domestik dalam keluarga, Islam sejak awal telah menetapkan satu hal yang fundamental: suami adalah pemimpin dalam rumah tangga.
Pernikahan dalam Islam, bukanlah sekadar kontrak antara dua pihak. Ia adalah mitsaqan ghalizaikatan kuat dan seriusyang melibatkan bukan hanya calon suami dan istri, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan Tuhan