Teladan umat Islam, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mencontohkan gaya hidup sederhana, yang bisa dilihat dari pola makan, cara berpakaian, dan lainnya.
Pengajar di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur, Ustadz H Said Abadi, mengatakan bahwa guru bukan sekadar tenaga pengajar di sekolah-sekolah, tapi sekaligus berperan sebagai warasatul anbiya atau pewaris nabi.
Guru adalah tugas yang mulia karena dituntut dapat membentuk muridnya menjadi individu yang berakhlak, berkarakter, dan berperilaku baik. Dalam Islam, teladan guru sesungguhnya adalah Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam.
Sejak usia nol, dia tidak memiliki ayah. Kemudian, saat berusia 6 tahun ibunya wafat. Rasulullah Saw tinggal dengan kakeknya hanya dua tahun, sebab di usia 8 tahun sang kakek meninggal dunia, terang Ustaz Elvandi.
Rasulullah SAW telah memberi peringatan akan bahaya utang dalam sabdanya. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW senantiasa berdoa kepada Allah SAW dan memohon perlindungan agar tidak terlilit utang.
Umat Islam saat ini membutuhkan satu model pendekatan baru untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam situasi dan kondisi krisis seperti sekarang. Takzim atau mengagumi Rasulullah SAW, harus diikuti langkah meneladani lebih jauh apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah.
Kehidupan Rasulullah jauh dari kata mewah dari sudut pandang materialisme. Pakaian yang dikenakan sederhana tapi berwibawa. Makan sekadar menambah energi untuk beribadah.
Di momen Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal 1444 Hijriah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa, Nabi Muhammad SAW adalah pembangun peradaban utama. Allah menjuluki Rasulullah sebagai Ahmad, simbol dan role-model segala keterpujian.
Mubaligh Persyarikatan Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyampaikan kekhawatirannya akan kondisi bangsa. Dai Pendiri Quantum Akhyar Institute itu menyebut bahwa Indonesia sedang mengalami krisis dalam ber-Muhammadiyah.
Seiring berkembangnya zaman, kian berbeda juga pola pikir setiap manusia. Tak sedikit pula yang perlahan meninggalkan pedoman agama dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, saat hal tersebut tak teratasi, Rasulullah akan memanggil seseorang untuk menjadi penengah mereka. Orang itu adalah ayag Aisyah, Abu Bakar As Siddiq.