Dalam tafsir Al-Mukhtashar dijelaskan, jika seorang hamba bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan, maka Allah menambah nikmat dan karunia-Nya.
Sebagai pedoman hidup umat muslim, Al-Qur'an mengatur kehidupan umat muslim sehari-hari beserta larangan-larangan besar yang dilaknat Allah SWT. Menghilangkan nyawa seseorang yang tidak bersalah merupakan satu di antaranya.
Seorang umat muslim yang beriman dan taat akan perintah Allah memiliki ciri hati yang lembut, karena hati yang lembut akan menimbulkan segala tutur kata serta sifat yang baik. Hal tersebut merupakan cerminan keindahaan agama Islam.
Dalam Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, fitnah tersebut yaitu kemusyrikan dan menindas orang mukmin, itu lebih kejam daripada pembunuhan dalam peperangan.
Syekh Muhammad bin Shalih asy-Syawi mengatakan bahwa diangkatnya keberkahan dan berkurangnya keturunan, peperangan, dan lainnya semua karena sebab dosa, maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan mengerjakan larangan-larangan-Nya.
Dengan membaca Al-Qur'an, akan memunculkan rasa ketenangan batin. Tak sekadar di baca, lantunan ayat-ayat suci tersebut pun harus diamalkan agar meningkatkan kualitas keimanan dan tentram dalam berkehidupan.
Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di dijelaskan bahwa Allah memberikan nikmat kepada manusia dengan nikmat-nikmat lahiriyah mapun batiniyah, Allah menjadikan dunia ini sebagai hamparan yang menjadi tempat manusia menetap dan mengambil manfaatnya.
Komunitas pecinta sesama jenis kini kian marak di seluruh penjuru dunia dengan slogan cinta adalah cinta. Fenomena ini sangat bertentangan jauh dari ajaran Islam.
Islam mengatur segala tata cara dan aturan berkehidupan yang baik dalam segala aspek, termasuk aturan dalam sebuah pernikahan. Lantas bagaimana Islam menyikapi pernikahan lintas agama?