Saat ini istilah generasi banyak digunakan untuk menyebutkan seseorang yang lahir di tahun tertentu. Adapun generasi ini terbagi menjadi beberapa tipe. Apa saja dan tahun berapa kelahirannya?
Ketua Bidang Infokom MUI, KH Masduki Baidlowi mengatakan Islam wasathiyah harus dibungkus secara gaul. Artinya produk dakwah atau penyampaian narasi baik keagamaan harus sampai dan mudah diterima generasi muda.
Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok, KH Yusron Shidqi mengatakan bahwa perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Maka, hal yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan pola pendidikan bagi generasi z agar bisa teguh memegang agama di era disrupsi.
Dakwah kepada generasi muda perlu sentuhan khusus. Apalagi anak muda bisa mengakses informasi sendiri. Itu membuat para pendakwah harus mampu menyajikan suguhan dakwah yang menarik bagi mereka. Apalagi jika pendakwahnya juga pemuda. Dakwah harus kontekstual dan elegan.
Teori pembagian generasi kerap digunakan banyak orang. Muncul istilah generasi X, Y atau milenial hingga generasi Z. Penulis buku Generasi Kembali ke Akar, Dr Muhammad Faisal, mengatakan, pembagian generasi tersebut tidak tepat untuk menggambarkan level generasi di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, masalah finansial ini memunculkan beberapa istilah. Bahkan menjadi populer di kalangan Gen Z, sebut saja FOMO, YOLO dan generasi sandwich.
Generasi Z dan Milenial merupakan generasi yang sangat akrab dengan internet. Akibatnya, generasi ini kerap terkena penyakit mental yang membuat produktivitas terganggu.
Founder Kuliah Saham, Firman Siregar, menganjurkan anak milenial agar mulai berinvestasi. Alasan logis investasi adalah kondisi finansial yang belum mapan.
Memberi dakwah melalui cara yang diminati anak muda, dengan materi yang mengena dengan kehidupan golongan muda saat ini. Sebab itu, penting sekali bagi pendakwah untuk bisa masuk ke dua generasi ini.