Sejauh ini, kebanyakan vaksin Covid-19 hanya diterima penduduk di negara dengan penghasilan menengah ke atas dan tinggi. Hanya 20 persen dari pasokan vaksin global yang tersedia untuk negara berkembang.
Jumlah tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap dan harus dirawat hanya berjumlah 0,17 persen. Sedangkan yang belum divaksinasi dan harus dirawat sebanyak 0,35 persen.
Hingga akhir pekan ini, total yang sudah menerima vaksin dosis pertama ada sebanyak 63,9 juta orang. Sementara dosis kedua sebanyak 36,3 juta orang. Sedangkan tenaga kesehatan yang sudah menerima dosis ketiga sebanyak 648.704 orang.
Masalah kontaminasi tersebut sebelumnya menjadi sorotan setelah dua warga Jepang meninggal setelah menerima suntikan vaksin Moderna, yang diyakini terkontaminasi partikel logam.
Komite Pakar Vaksinasi Covid-19 Singapura merekomendasikan agar orang dengan gangguan kekebalan tubuh pada tingkat sedang hingga berat menerima vaksin dosis ketiga berbasis mRNA yang sama dalam kurun waktu dua bulan setelah dosis kedua.
Stok yang cukup dan distribusi yang cepat menjadi kunci utama percepatan vaksinasi. Pemerintah terus berupaya mengamankan stok vaksin, baik melalui kerja sama bilateral maupun multilateral.
Vaksin Covid-19 yang sudah didistribusikan Bio Farma 90.368.340 dosis, AstraZeneca (Covax, B2B, dan hibah) 16.518.784 dosis, CoronaVac 1 dosis sebanyak 3 juta dosis, Moderna 7.563.318 dosis, Coronavac 2 dosis 9.990.344, dan Sinopharm (hibah) sebanyak 499.886 dosis.
Kekhawatiran terbesar banyak orang setelah divaksin Covid-19 adalah efek sampingnya. Menurut Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban menjelaskan mana efek yang wajar dan tidak.
Seluruh vaksin tiba melalui jalur penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta selanjutnya dikirim menuju tempat pengemasan dan produksi di PT Bio Farma Bandung