Mudir Ma'had Imam Bukhari Bandung, Ustaz Ginanjar Nugraha mengatakan, jika seorang muslim sengaja tidak memilih calon pemimpin yang baik dan sesuai dengan anjuran dalam Islam, maka akan menanggung dosa.
Sekretaris Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Ustaz Amin Muchtar menyebut bahwa Islam mengajarkan dua cara pandang menyikapi bencana.
Dengan memiliki keenam sifat tersebut, tentunya seorang pemimpin akan sangat profesional dalam mengemban jabatannya. Serta tidak semena-mena serta bijak dalam mengambil tindakan.
Dia menjelaskan apabila dalam waktu yang singkat di dunia manusia tersebut dapat bersabar melaksanakan ketaatan kepada Allah ta'ala, maka tentu mereka akan selamat dan beruntung pada masa yang panjang dan abadi.
Dakwah menyeru manusia ke jalan Allah merupakan jalan pilihan dari manusia-manusia pilihan pula, yaitu para rasul Allah. Menurut dia, menyeru manusia agar mengikuti sabilillah memiliki banyak tantangan, baik dari diri sendiri hingga orang lain.
Menurut dia, karena kepikunan beliau hadis-hadis yang shahih tentang fadilah surat Al-Kahfi tidak menyebutkan waktu. Hanya periwayatan dari beliau yang menunjukan waktu khusus.
Dia mengungkapkan bahwa iman yang kuat dapat menjadi benteng kokoh terhadap kesesatan duniawi. Dengan begitu, otomatis akan melahirkan al-haya atau rasa malu melanggar prinsip syariat.
Dia menuturkan, hak tersebut dapat diartikan sebagai sebuah anjuran keharusan untuk dikerjakan. Adapun sebagian ulama memiliki perbedaan penafsiran atas hak yang terkandung dalam hadis tersebut sebagai kewajiban dan sunnah muakkad.
Dengan kekhusyukannya, orang tersebut akan senantiasa merasa bahagia dan lega hatinya. Meski di waktu yang bersamaan tengah mendapat ujian dari Allah SWT.
Guru Besar Unpad ini tidak mempermasalahkan jika Amerika memiliki pandangan tersendiri terhadap LGBTQ. Akan tetapi Amerika tidak memiliki hak dalam memaksakan pemahaman LGBTQ, negara lainnya.
Seluruh manusia yang dibangkitkan akan sibuk dengan dirinya sendiri. Begitu pula dengan tangisan dan kesedihan yang dikeluarkan orang-orang pada hari akhir sudah tidak berarti lagi sebab itu merupakan hari pembalasan akan perbuatan manusia semasa hidupnya.
Ustaz Amin menyebutkan bahwa Ibnu Katsir memberikan catatan periode hidup Ashabul Kahfi demi menyelamatkan keyakinan serta merawan akidah dengan berlari dari kaumnya. Hal itu dilakukan karena takut akan fitnah pada agama mereka.
Berdasarkan sebuah riwayat, Kiai Wawan menceritakan ketika itu ada seorang non muslim bernama Amr Bin Uqaisy yang berasal dari kaum Bani Ashal. Sebagian besar dari kaumnya telah memeluk agama Islam, akan tetapi tidak dengan Amr Bin Uqaisy yang masih meragukan Islam.