Muhammadiyah akan menggelar Muktamar ke-48 pada 18-20 November 2022 di Solo, Jawa Tengah. Acara yang mengambil tema Memajukan Indonesia, Mecerahkan Semesta itu akan digelar di Gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakara (UMS).
Presiden Joko Widodo menerima Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (16/9/2022). Dalam pertemuan tersebut, Presiden mengapresiasi peran aktif Muhammadiyah turut memulihkan perekonomian nasional pascapandemi Covid-19.
Ilmu kalam merupakan disiplin filsafat mencari prinsip-prinsip teologi Islam melalui dialektika. Dalam mempelajarinya perlu melibatkan nalar dan logika.
Nama Abdul Mu'ti tak lagi asing di telinga masyarakat. Tokoh yang berprofesi sebagai dosen ini melawan arus bahwa Muhammadiyah merupakan ormas yang serius.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu'ti, menilai islamofobia eksis di Indonesia namun sebatas bersifat personal saja. Sementara tidak ada islamofobia yang terlembaga. Namun akan jadi masalah jika yang terjangkit islamofobia adalah elite.
Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam besar di Indonesia cukup diperhitungkan dalam politik. Namun Muhammadiyah punya cara tersendiri dalam berpolitik dan menjaga hubungan dengan kekuasaan. Simak penjelasan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu'ti.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Muti, M.Ed, menilai ada empat masalah besar yang kini tengah dihadapi umat Islam di Indonesia. Di antaranya adalah rendahnya kualitas SDM muslim dan segregasi atau perpecahan.
Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang sukses mengelola puluhan ribu amal usaha. Mulai dari lembaga pendidikan tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, rumah sakit hingga panti asuhan tersebar di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Apa rahasianya?
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Muti, menilai salah satu masalah besar umat Islam saat ini adalah terpecah belah sebab tidak memiliki sosok tokoh yang bisa menjadi pemersatu.
Menurut dia, Australia termasuk negara maju yang bisa berkolaborasi untuk pengembangan pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, yang tentu satu sama lain saling memberikan perspektif yang lebih maju sejalan dengan pandangan Muhammadiyah akan Islam yang berkemajuan.
Menurut dia, guyon yang disampaikan bukan sembarangan guyon. Guyonnya adalah guyon maton, yakni guyon yang bermutu bukan guyon wato (asal lucu) atau guyon saru (lucu jorok).