Orang tua harus memahami cara melatih imajinasi anak untuk menumbuhkan potensi besar dalam diri mereka. Salah satu cara paling tepat adalah membacakan kisah-kisah perjuangan Rasulullah SAW, para sahabat beliau, dan kisah heroik pejuang Islam terdahulu.
Orang tua tidak bisa mendampingi anak seumur hidupnya. Sehingga, kebiasaan memanjakan anak meski sudah mondok di pesantren, akan berdampak buruk bagi masa depan anak itu sendiri.
Direktris Pesantren Putri Darul Huffadh, Ustadzah Sadiah Lanre Said, menceritakan ikatan batin antara orang tua dan anak. Terutama orang tua yang memilih memondokkan anaknya di pondok pesantren.
Setiap rumah tangga pasti akan menghadapi masalah. Nah salah satu referensi terbaik umat Islam dalam menghadapi masalah keluarga adalah teladan dari keluarga Nabi Ibrahim AS.
Ibnu Taimiyah berkata, sesungguhnya hati adalah raja dan yang lain adalah prajurit. Jika hati seseorang sudah tunduk, maka yang lain pasti mengikuti. Ini sangat relevan dengan konsep pengasuhan anak.
Orang tua harus berkolaborasi mendidik anak agar tumbuh menjadi hamba Allah Taala yang shalih dan shalihah. Mendidik anak merupakan perintah Al-Quran yang termaktub dalam surah At-Tahrim ayat 6.
Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan sebuah dosa yang membuat seseorang lebih hina dari Firaun. Dalam Al-Quran, surah Al-Araf ayat 179 disebutkan, terdapat momen derajat manusia akan sejajar dengan hewan, bahkan lebih hina.
Waktu subuh adalah bagian terpenting dari proses membangun kebiasaan yang baik pada anak-anak kita. Bahkan waktu subuh adalah bagian dari amal harian terbaik seorang muslim.
Dokter Pakar Neuroparenting, dr. Aisah Dahlan, Cht, membagikan tips agar orang tua bisa menjadi tempat curhat yang nyaman untuk anak, terutama anak yang beranjak dewasa.
Pakar Parenting Ustadz Muhammad Fauzil Adhim mengatakan saat ini banyak orang tua salah menilai makna lingkungan yang sesungguhnya, yang memberi dampak pada tumbuh kembang anak.
Pakar Parenting Ustadz Fauzi Adhim menekankan bahwa pandemi dalah momen menata kembali kualitas keluarga. Ia merupakan bekal awal untuk menata pendidikan anak.