Ibnu Katsir menuturkan bahwa Adam ditunkan di Sirnadib India, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jeddah. Keduanya kemudian dipertemukan oleh Allah setelah Adam berdoa memohon ampun kepada Allah.
Kedua penyaji mendiskusikan dan membahas berbagai hal, termasuk efektivitas kebahagiaan dalam beragama. Hal tersebut sekaligus memposisikan Islam sebagai wadah untuk meraih kebahagiaan dan kedamaian itu sendiri.
Pihak panitia menyediakan 1000 peserta sesuai dengan kapasitas auditorium. Mereka bukan hanya mahasiswa dan civitas UII, namun juga dari kalangan masyarakat umum.
Ada 3 hadist Nabi SAW yang menganjurkan umat Islam berpuasa di bulan Zulhijah. Namun amalan sunnah ini sangat ditekankan pada H-1 Idul Adha atau puasa Arafah.
Sebagai ummat Nabi Muhammad SAW jika ingin bersama nabi di akhirat, tidak hanya sekadar diucapkan melalui lisan saja dengan sholawatan, tapi juga perlu dibuktikan.
Umat Islam dianjurkan untuk melakukan amalan puasa sunnah ketika mulai masuk tanggal 1-9 Zulhijah. Perintah ini disebutkan dalam hadit Nabi Muhammad SAW.
Menurut dia, perbedaan metodologi akan mengakibatkan perbedaan dari sisi kesimpulan. Hal itu tergantung pendekatan yang diambil, apakah bayani yang bertumpu pada teks, atau ta'lili yang bertumpu pada rasio atau akal.
Dia melanjutkan, Allah SWT berkata dalam Alquran bahwa barang siapa yang sudah diwajibkan untuk berangkat haji, maka ia harus menjaga lisan dan perbuatannya.
Shalat dan qurban, menurut Ibnu Jarir, merupakan tanda syukur atas segala pemberian Allah kepada hamba-Nya. Tak ada yang dapat menandingi kebaikan yang diberikan Allah.
Manasik haji biasanya dilakukan di masjid-masjid besar. Setiap daerah memiliki masjid tertentu yang memberikan sarana manasik haji bagi para calon jemaah haji.
Iwan menuturkan di usia tuanya ia masih bersemangat mengurus masjid. Ia memilih hidup sederhana dan mengurusi masjid karena merasa hatinya sudah terpaut dengan masjid.
Ibadah qurban merupakan syariat tertua karena sudah ada sejak zaman Nabi Adam, yaitu ketika Nabi Adam memerintahkan kedua putranya Qabil dan Habil untuk berkurban.
Masjid Baabul Munawwar dibangun pada kedalaman 1.760 meter di bawah permukaan bumi dan menampung 250-300 jemaah serta dilengkapi teknologi sirkulasi udara untuk menyedot pertikel polutan ke luar bangunan.
Pardi menyampaikan bahwa dalam memakmurkan Masjid Jami Miftahul Jannah ini nantinya akan me-launching satu program yang dinamakan dengan Jemaah Plus, yaitu setiap jemaah harus bisa membawa jemaah-jemaah yang lain.
Menurut Pardi, hal tersebut tentu sebagai hasil dari kolaborasi dari beberapa pihak yang membantu dalam memberikan kontribusi, baik fisik ataupun materi yang diberikan. Ia menyebutkan, pembangunan masjid tersebut menelan biaya hingga Rp11 miliar.