LANGIT7.ID - Bagi kebanyakan orang, profesi ibu rumah tangga dengan berbagai peran domestiknya bukanlah merupakan pekerjaan profesional yang membutuhkan ilmu dan skill tertentu. Namun tidak bagi seorang muslimah asal Salatiga Jawa Tengah yakni Septi Peni Wulandani.
Bagi ibu rumah tangga dengan tiga anak ini, ibu rumah tangga adalah peran penting yang harus dilakukan dengan profesional. Septi memiliki prinsip bahwa perempuan harus bisa kuat dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan, ibu maupun seorang istri lebih dari pekerjaan profesional lain.
Septi bukan hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi anak-anak dan urusan domestik rumahnya saja, melainkan ia aktif dalam gerakan pelatihan dan pemberdayaan ibu Indonesia.
Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Miliki Omzet Rp200 Juta dari Ternak Burung PuyuhDengan
passion sebagai ibu rumah tangga yang senang mengelola keluarga, termasuk mendidik anak-anak inilah yang kemudian melahirkan banyak karya-karya pemikiran Septi yang kemudian ditularkan kepada keluarga-keluarga lain di Indonesia.
Dengan berbagai pengalamannya menjalani peran sebagai Ibu dan Istri, Septi kemudian mendirikan Institut Ibu Profesional. Institut Ibu Profesional dibentuk untuk menjadi laboratorium pencetak para ibu sebagai pilar keluarga yang tangguh.
Di ranah publik, Septi awalnya dikenal sebagai pendiri Jarimatika, sebuah metode pengajaran matematika yang menggunakan jari-jari tangan sebagai alat bantu. Bukan hanya sekedar menemukan, Septi aktif melakukan edukasi dan mendorong para ibu untuk menguasai metode Jarimatika serta mengajarkannya di sekitar mereka.
Selain itu, Septi juga merancang
Home Based Education untuk diaplikasikan para Ibu dalam mendidik anak di rumah. Kurikulum dari metode tersebut diantaranya mengajarkan struktur berpikir, logika, keterampilan komunikasi, membuat keputusan, memimpin dan sebagainya. Dalam metode itu, Ibu bukan mengajar, melainkan belajar bersama, tumbuh bersama anak-anak.
Dengan menjadikan keluarganya sebagai laboratorium mini peradaban, kini Septi telah menularkan banyak teknik pendampingan belajar anak, di antaranya jarimatika (berhitung), abaca baca (membaca), jari Qur'an (mengaji), nirmana (kreativitas), harimau kecil (matematika realistik) dll. Seluruh teknik ini merupakan hasil riset dan terapannya untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak-anaknya.
Melalui proses
Home Based Education tersebut, Septi juga berhasil merumuskan kurikulum Ibu Profesional. Kurikulum tersebut awalnya dijalankan di rumah dengan trial error selama delapan tahun, setelah itu mulai bakukan menjadi komunitas Ibu Profesional yang kemudian berkembang dan membentuk Institut Ibu Profesional.
Kurikulum tersebut dirangkum dalam matrikulasi: bunda sayang- bunda cekatan - bunda produktif - bunda sholihah. Institut Ibu Profesional hingga kini telah memasuki tahun keenam.
Inspiratif dan Penuh PrestasiPola penerapan Home Based Education ini di kemudian hari dilirik oleh pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadopsi sistem yang dikembangkan Septi untuk mendirikan Direktorat Pembinaan dan Pendidikan Keluarga (Bindikkel).
Pada saat itu, Septi pun dikirim untuk melakukan studi banding ke Ministry of Family, Singapura. Hasil dari studi banding tersebut juga digunakan untuk merumuskan Direktorat Bindikkel.
Deretan penghargaan telah diperoleh Septi atas usahanya dalam menyebarkan Home Based Education melalui komunitas-komunitas dan IIP. Di antara sederet penghargaan itu pernah mendapatkan penghargaan Danamon Award kategori Individu Pemberdaya Masyarakat 2006 dan termasuk dalam 10 Yang Mengubah Indonesia, Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2007.
Perannya dalam mengedukasi perempuan dan ibu-ibu juga mengantarkan Septi sebagai Woman of Entrepreneur, Ashoka Award USA 2007, Inspiring Women Award tahun 2009 dan Kartini Next Generation bidang Pendidikan dari Kemenkominfo 2013. Serta penghargaan tertinggi nya adalah penghargaan dari Allah yang memberikan pasangan hidup dan anak-anak yang bisa menjadi guru kehidupan bagi Septi, hingga membuatnya untuk terpacu terus belajar dan berkarya.
Setelah semua kesuksesan yang ia bagi dengan keluarga dan teman-teman komunitasnya, Septi juga masih mempunyai mimpi besar. Di Usianya yang memasuki 47 tahun, Septi telah membuat komunitas Jelita ( jelang lima puluh tahun) dan Alita ( atas lima puluh tahun) . Sementara IIP sudah akan dipegang oleh ibu-ibu muda usia produktif ( 20-40 th) agar banyak keluarga muda nanti memiliki orangtua dan mertua yang paham bagaimana mendidik cucunya dan bersikap dengan keluarga anaknya.
Sebagai aktivis sosial, Septi telah memperoleh berbagai penghargaan atas kemampuan leadership dan perubahan yang dilakukannya, diantaranya adalah:
- Pemenang Danamon Award 2006 sebagai Individu Pemberdaya Masyarakat’
- Asoka Fellowship 2007 sebagai Woman of Entrepreneur.
- Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2007 sebagai 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia
- Penghargaan Menpora 2007 sebagai 20 Pemuda yang Mengukir Prestasi.
- Nominator International Entrepreneur of the year dari Ernst and Young tahun 2007
- Ikon 2008 Majalah Gatra untuk bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi
- Kartini Award versi majalah Kartini, 2009
Selain itu, Septi juga mengembangkan beberapa inisiatif pendidikan dan kegiatan sosial, antara lain:
- Jaritmatika, metode pembelajaran matematika.
- Abaca-baca, metode belajar membaca.
- Jari Quran, metode belajar Al Quran.
- Padepokan Lebah Putih, sekolah formal ramah anak.
- Komunitas Belajar Cantrik, komunitas para orangtua homeschooling.
- Ibu Profesional, gerakan pelatihan dan pemberdayaan para ibu.
Sumber: Rumah Inspirasi dan Harkat Negeri(jqf)