LANGIT7, Jakarta - Suatu peradaban tentu memiliki budaya yang menjadi ciri khas masing-masing. Budaya memiliki nilai-nilai luhur, sejalan dengan keyakinan yang dianut sebagian besar warga di suatu tempat.
Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi banyak budaya atau tradisi di Indonesia yang menunjukan nilai kebaikan. Namun, budaya tidak diperbolehkan apabila bertentangan dengan syariat.
Baca Juga: Sandal Tertukar di Masjid, Bolehkah Pakai Sandal Orang Lain?"Jika budaya atau tradisi tidak bertentangan dengan syariah, maka menurut Imam Syafi'i, itu menjadi al adah al muhakkamah. Artinya kebiasaan masyarakat yang bisa menjadi sandaran hukum," ungkap Habib Abdurrahman kepada Langit7, Kamis (24/2/2022).
Habib mencontohkan tradisi halal bihalal di Indonesia. Dalam sunnah ataupun syariah tidak ada konsep tersebut. Tetapi, ketika halal bihalal diniatkan untuk menjalin hubungan silaturahim, maka tidak hanya diperbolehkan tetapi bisa jadi sunnah bahkan wajib.
Bericara konsep syariah, maka tidak semua murni dibawa oleh Nabi Muhammad, tetapi sebagian merupakan keberlanjutan dari syariat nabi-nabi sebelumnya. "Misalnya tawaf, umat-umat terdahulu juga bertawaf. Syariat tawaf telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim. Panggilan haji pun demikian, sudah ada semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam.
Baca Juga: Jangan Dulu Investasi Sebelum Tahu Aturan sesuai SyariatSeiring berjalannya waktu, syariat tawaf mengalami pergeseran makna dan melenceng dari hakitat sebelumnya. Maka diutuslah Nabi Muhammad SAW untuk menyempurkanan syariat dan mengembalikan tawaf ke konteks sebelumnya.
Contoh lain misalnya perintah shalat. Shalat telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu, namun berbeda praktiknya. Islam datang dengan membawa syariat shalat yang gerakannya langsung dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
"Shallu kama raaitumuni ushalli. Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat," (HR Bukhari).
Baca Juga: Buya Yahya: Ini Cara Indah Islam Berantas PerbudakanHabib Abdurrahman mengingatkan kepada umat Islam agar tidak mudah menjelekkan suatu tradisi. Karena banyak tradisi di Indonesia yang sebetulnya baik.
"Kita jangan jadi umat Islam yang kaku dan literalis. Yakni menafsirkan firman Allah dan hadis nabi secara tekstual saja, tetapi kita harus memahami apa hikmah yang terkandung didalamnya," ujar Habib Abdurrahman.
Baca Juga:
Pakar UI: Pinjaman Harus Sesuai dengan Syariat Islam
Bagaimana Asal Usul Syariat Adzan?(asf)