Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home global news detail berita

Habib Abdurrahman: Budaya Dibolehkan Asal Tak Bertentangan Syariat

Jaja Suhana Kamis, 24 Februari 2022 - 15:25 WIB
Habib Abdurrahman: Budaya Dibolehkan Asal Tak Bertentangan Syariat
Habib Abdurrahman Al-Habsyi. Foto: Istimewa
LANGIT7, Jakarta - Suatu peradaban tentu memiliki budaya yang menjadi ciri khas masing-masing. Budaya memiliki nilai-nilai luhur, sejalan dengan keyakinan yang dianut sebagian besar warga di suatu tempat.

Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi banyak budaya atau tradisi di Indonesia yang menunjukan nilai kebaikan. Namun, budaya tidak diperbolehkan apabila bertentangan dengan syariat.

Baca Juga: Sandal Tertukar di Masjid, Bolehkah Pakai Sandal Orang Lain?

"Jika budaya atau tradisi tidak bertentangan dengan syariah, maka menurut Imam Syafi'i, itu menjadi al adah al muhakkamah. Artinya kebiasaan masyarakat yang bisa menjadi sandaran hukum," ungkap Habib Abdurrahman kepada Langit7, Kamis (24/2/2022).

Habib mencontohkan tradisi halal bihalal di Indonesia. Dalam sunnah ataupun syariah tidak ada konsep tersebut. Tetapi, ketika halal bihalal diniatkan untuk menjalin hubungan silaturahim, maka tidak hanya diperbolehkan tetapi bisa jadi sunnah bahkan wajib.

Bericara konsep syariah, maka tidak semua murni dibawa oleh Nabi Muhammad, tetapi sebagian merupakan keberlanjutan dari syariat nabi-nabi sebelumnya. "Misalnya tawaf, umat-umat terdahulu juga bertawaf. Syariat tawaf telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim. Panggilan haji pun demikian, sudah ada semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam.

Baca Juga: Jangan Dulu Investasi Sebelum Tahu Aturan sesuai Syariat

Seiring berjalannya waktu, syariat tawaf mengalami pergeseran makna dan melenceng dari hakitat sebelumnya. Maka diutuslah Nabi Muhammad SAW untuk menyempurkanan syariat dan mengembalikan tawaf ke konteks sebelumnya.

Contoh lain misalnya perintah shalat. Shalat telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu, namun berbeda praktiknya. Islam datang dengan membawa syariat shalat yang gerakannya langsung dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

"Shallu kama raaitumuni ushalli. Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat," (HR Bukhari).

Baca Juga: Buya Yahya: Ini Cara Indah Islam Berantas Perbudakan

Habib Abdurrahman mengingatkan kepada umat Islam agar tidak mudah menjelekkan suatu tradisi. Karena banyak tradisi di Indonesia yang sebetulnya baik.

"Kita jangan jadi umat Islam yang kaku dan literalis. Yakni menafsirkan firman Allah dan hadis nabi secara tekstual saja, tetapi kita harus memahami apa hikmah yang terkandung didalamnya," ujar Habib Abdurrahman.

Baca Juga:

Pakar UI: Pinjaman Harus Sesuai dengan Syariat Islam

Bagaimana Asal Usul Syariat Adzan?


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)