LANGIT7.ID, Jakarta - Doa sayidul istighfar merupakan salah satu dzikir yang dianjurkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Bacaan ini disunnahkan dilafalkan setiap pagi dan petang.
وعن شَدَّادِ بْنِ أَوسٍ - رضي الله عنه - ، عن النبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قال : (( سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ العَبْدُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إلهَ إلاَّ أنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ، وأبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ، فَإنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أنْتَ . مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِي ، فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ ، وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ
(Allahumma Anta Rabbi, la ilaha illa Anta khalaqtani, wa ana 'abduka, wa ana ala ahdika wawa'dika mastatha'tu, audzubka min syarrima shana'tu, abu'u laka bini'matika alayya wa abu'u laka bi dzanbi, faghfirli, fa innahu la yaghfirudzunuba illa Anta.)
Dari Syadad bin Aus bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sayidul Istighfar adalah seorang hamba berdoa: "Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Ilah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu, aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu sekuat tenagaku, aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku, aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat, maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah." Barang siapa yang mengucapkan doa ini (yaitu doa sayidul istihgfar) pada siang hari dengan menyakini isinya, kemudian mati pada hari itu, sebelum datang waktu sore, niscaya dia termasuk ahli syurga. Dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dengan menyakini isinya, kemudian dia mati sebelum datangnya pagi, niscaya dia termasuk ahli syurga." (HR Bukhari).
Adapun kandungan dan pelajaran dari doa sayidul istighfar di atas menurut pendiri Pusat Kajian Fikih (Puskafi), al-Ustaz Dr. Zain An-Najah adalah sebagai berikut. Pertama, Tauhid Rububiyah:
اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّي
"Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku."
Doa sayidul istighfar ini dimulai dengan pengakuan seorang hamba kepada Rabb-nya, bahwa Dia adalah Pencipta, Pemilik dan Pemeliharanya. Karena Rabb berarti: pemilik dan pemelihara. Pengakuan seperti ini disebut dengan Tauhid Rububiyah.
Petikan doa di atas mempunyai kandungan sebagai berikut:
"Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-Ku, Dzat Yang menciptakanku, dulu saya tidak ada, hanya dengan izin-Mu aku menjadi ada dan masih hidup di dunia ini. Engkau adalah Rabb-ku, Dzat Yang memeliharaku, dulu aku kecil, tidak bisa apa-apa dan tidak tahu apa-apa, hanya dengan Inayah dan perhatian-Mu, sehingga aku menjadi besar dan tahu banyak hal. Engkaulah Yang memberikan-ku rezeki sehingga sampai sekarang aku bisa makan dan minum."
Pengakuan terhadap tauhid rububiyah semacam ini telah disebutkan di dalam banyak ayat-Nya di dalam al-Qur’an, diantaranya adalah di dalam surat al-Fatihah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam" (Qs. al-Fatihah: 2).
Kedua, Tauhid Uluhiyah:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ
"Tiada Ilah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu."
Maksudnya seorang hamba mengakui dan menyatakan bahwa di alam ini tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa taala.
Karena 'Ilah' berarti: sesuatu yang disembah, sesuatu yang dijadikan gantungan dan sandaran, sesuatu yang dituju dan dicari ketika terjadi kesulitan. Pengakuan seperti ini disebut dengan "Tauhid Uluhiyah."
Kandungan petikan doa di atas adalah sebagai berikut:
"Tiada yang berhak disembah dan dimintai kecuali Engkau ya Allah. Aku tidak akan meminta hajat kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada akan meminta bantuan kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada minta kesembuhan kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada memohon ampun kecuali kepada-Mu ya Allah, tiada memohon jalan keluar dari seluruh masalah kecuali kepada-Mu ya Allah. Engkau adalah Dzat Yang menciptakan seluruh alam ini, aku hanyalah seorang hamba yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, kecuali dengan bantuan-Mu, hamba yang tidak mempunyai apa-apa kecuali dengan pemberian-Mu ya Allah."
Inilah inti dari seluruh ibadah kita. Kita salat, kita berpuasa, kita membayar zakat dan kita melakukan ibadat haji. semuanya berisi ketundukan kepada Allah subhanahu wa taala. Maka, tiada artinya kita salat tiap hari, tapi kita masih memohon perlindungan kepada selain Allah, kita masih memberikan sesajen di pojok-pojok jalan, di bawah-bawah pohon beringin, di tepi-tepi pantai selatan, di lereng-lereng gunung, yang tujuannya untuk kita persembahkan kepada jin penunggu tempat-tempat tersebut. Tiada artinya kita haji sepuluh atau dua puluh kali, tetapi kita masih datang ke dukun-dukun untuk meminta jodoh, meminta keturunan, meminta pelaris dan meminta jabatan.
Allah mempertanyakan orang-orang yang mengakui Allah sebagai Pencipta, Perawat, Penyembuh, Penurun Hujan, Pemberi Rizki, tetapi mereka menyembah kepada selain Allah, karena pengakuan terhadap Tauhid Rububiyah akan membawa kepada pengakuan kepada Tauhid Uluhiyah, sebagaimana di dalam firman-Nya:
قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)
"Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?". Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?". Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?". Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?". Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?". Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (Qs al-Mu’minun: 84-89).
(bal)