Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Ingin Punya Anak Cinta Ilmu dan Suka Baca Buku? Begini Caranya

Muhajirin Jum'at, 11 Maret 2022 - 15:00 WIB
Ingin Punya Anak Cinta Ilmu dan Suka Baca Buku? Begini Caranya
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Bagi seorang muslim, ilmu adalah kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Maka seorang muslim harus mencintai ilmu dan buku adalah jendela untuk mendapatkan ilmu.

Penulis dan pegiat literasi asal Yogyakarta, Yusuf Maulana, membagikan tips mendidik anak agar mencintai ilmu dan buku untuk mencari pengetahuan.

Marak nasihat para ulama, anak sebenarnya sudah mulai belajar saat masih dalam kandungan dengan mengandalkan indera pendengaran mereka. Orang tua bisa mulai dari titik itu. Namun perlu dicatat, orang tua perlu terlebih dahulu mencintai ilmu dan cinta membaca buku. Sebab, keteladanan orang tua akan membekas ke pribadi anak.

“Seyogyanya proses membaca itu dilangsungkan sebagai sebuah kecintaan yang menjadi bagian dari kebiasaan sang ibu atau ayah,” kata Yusuf kepada LANGIT7.ID, Jumat (11/3/2022).

Baca juga: MUI: Siaran Ramadhan Dinilai Masih Jauh dari Edukatif

Yusuf menekankan pada kecintaan. Orang tua harus terlebih dahulu mencintai ilmu, sehingga proses belajar sejak dari kandungan bisa terealisasi dengan baik. Aktivitas membaca buku bukan proses yang dibuat-buat atau direkayasa hanya untuk memperlihatkan kepada anak. Namun, kecintaan itu harus dibangun dari hati yang tulus dan niat yang benar.

“Dari situlah, ketika anak terlahir, anak akan melihat dengan indranya yang bertahap, khususnya nanti indra netra atau penglihatan, dia akan melihat, merasakan, menatap langsung ketika ayah ibundanya berinteraksi dengan aksara, teks, buku. Ananda tanpa secara langsung akan belajar dari itu semua,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, proses pendidikan secara tidak langsung itu akan membekas sangat kuat kepada anak, sebab berawal dari kebiasaan orang tua. Anak-anak akan melihat kebiasaan orang tua. Terlebih Jika di dalam rumah didapati banyak buku-buku yang mudah diraih untuk dibaca. Indra anak merekam semua itu.

“Tidak harus kita tiba-tiba menjadi kutu buku, tidak. Tapi bertahaplah untuk menyukai buku dengan memulai dengan apresiasi, memberikan buku, membacakan untuk mereka,” ucap Yusuf.

Interaksi semacam itu di lingkungan Keluarga akan membuat anak makin akrab dengan teks atau buku.

Saat Anak Sudah Bisa Membaca

Ketika anak sudah sampai pada usia bisa membaca, orang perlu memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi. Yusuf mengaku tidak memberikan batasan tema bacaan sesuai jenjang umur kepada anak. Dalam hal ini, orang tua bertindak sebagai pendidik yang menuntun, mengawal, memberi dukungan, dan melatih untuk mandiri membaca buku.

Baca juga: Komunitas Ruang Indonesia Bercerita, Wadah Ekspresi Penyandang Disabilitas

Yusuf mencontohkan salah satu anaknya yang duduk di kelas empat sekolah dasar. Sang anak sudah bisa membaca koran, sehingga bisa mengikuti perkembangan konflik Rusia-Ukraina. Meskipun belum bisa memahami secara utuh seperti pembaca dewasa, hanya memahami permukaan.

“Saya tidak batasi anak dari tema itu. itu kan sesuatu yang biasa, bagi generasi saya dulu, orang tua memberikan tema-tema yang cukup berat. Jadi, saya pun harus berlaku adil kepada anak saya,” kata Yusuf.

Namun, orang tua harus memperbanyak interaksi dengan anak, sebagai salah satu konsekuensi memberi kebebasan membaca kepada anak.

Membiasakan Mengutamakan Buku Ketimbang Googling

Membiasakan anak membaca buku akan melatih anak untuk menikmati proses mencari ilmu. Dunia digital yang kian berkembang membuat teknologi informasi menyebar sangat cepat. Segala informasi pun bisa didapat secara instan.

Namun, orang tua harus mendidik anak sejak dini menghargai proses. Sehingga saat dewasa kelak, mereka tidak terbiasa dengan hal-hal yang instan. Kebiasaan membaca buku sedari kecil akan membuat anak terbiasa dengan proses.

“Sehingga anak lebih akrab dengan ensiklopedi teks ketimbang googling, sehingga secara pelan-pelan tidak mudah mencari keingintahuannya dengan mesin pencarian. Mungkin terdengar romantik, tapi bagi saya ini cara mendekatkan anak-anak menghargai betapa susahnya pengetahuan itu diraih,” ucap Yusuf.

Sering Ajak Anak ke Acara Literasi

Kebiasan lain yang harus dibiasakan sejak dini adalah dekat dengan dunia literasi. Orang tua bisa mengajak anak jalan-jalan ke toko-toko buku, menghadiri bedah buku, hingga jumpa penulis cilik. Secara tak langsung, itu menjadi motivasi bagi anak untuk dekat dengan dunia literasi.

“Alih-alih misalnya shoping ke mall dan sebagainya. Nah apa yang menjadi kesukaan atau favorit orang tua mereka tahu betul, apa yang dibelanjakan orang tua, mereka tau betul. Itu meletakkan fondasi bagaimana anak mencintai sesuatu,” kata Yusuf.

Buku yang Cocok untuk Anak

Anak tidak perlu dibatasi untuk membaca. Hanya perlu kontrol dan pengawalan. Anak-anak bisa dituntun untuk membaca ensiklopedi tentang Rasulullah. Jika mereka tak puas dengan sekadar ensiklopedi, mereka bisa membaca sirah nabawiyah.

Baca juga: Perpustakaan Masjid Islamic Center Samarinda Layak Jadi Percontohan

“Idealnya memang seperti itu, jadi anak tidak mengikuti diktean orang tua. Jadi anak mengikuti apa yang menurut mereka ada sesuatu yang menarik,” kata Yusuf.

Yusuf menceritakan, anak-anaknya menyukai buku-buku bernuansa petualangan detektif remaja. Tema semacam itu sangat bagus untuk melatih alur logika seorang anak. Ada banyak buku serial bernuansa detektif remaja yang bisa ditemui di toko buku.

“Bagi saya, buku yang melatih alur berpikir itu baik sekali, apalagi tantangan ke depan, segala sesuatu pemahaman bersifat dogmatis memang harus diminimalisasi dan hendaknya diganti dengan pendekatan rasional atau hujjah-hujjah yang memang matang, mantap, dan anak-anak bisa mulai dari titik sana,” ucap Yusuf.

Pertanyaan-pertanyaan seputar ketuhanan juga pasti menjadi pertanyaan anak. Itu keniscayaan. Maka, orang tua bisa menyajikan bacaan-bacaan bertema demikian. Bisa pula memberikan buku-buku sains, penemuan modern, arkeologi, dan sebagainya. Itu untuk membantu pemahaman anak.

“Jadi, buku-buku bertema logika, tentang petualangan, buku yang mengajarkan tentang kerasionalan, buku-buku yang merangsang banyak minat kepada Rasulullah. Tanpa saya pribadi melakukan perintah secara khusus, tinggal memantau secara khusus ada kesulitan atau tidak,” tutur Yusuf.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)