LANGIT7.ID, Jakarta - Usai 12 jam menahan lapar dan dahaga, kesempatan berbuka puasa pada saat adzan maghrib berkumandang merupakan kesempatan yang dinanti-nanti. Terlebih ada peluang lebar terbukanya pintu doa menjelang berbuka puasa.
Hanya saja, seringkali kita lupa dan terlalu bersemangat untuk menghabiskan hidangan yang tersaji di depan mata. Tak jarang hal ini menyebabkan kekenyangan dan mengantuk saat beribadah.
Pimpinan
CariUstaz.id Dr Ali Nurdin mengatakan ibadah puasa dapat bernilai maksimal sekaligus menyehatkan apabila berbuka dan sahur secara proporsional. "Yakni makan makanan yang tidak hanya halal tapi baik dan tidak berlebihan bagi tubuh," ujar Ali Nurdin dalam Kultum Ramadhan di PTIQ TV, dikutip (5/4/2022).
Baca Juga: Shaum Ramadhan Angkat Derajat Mukmin Jadi MuttaqinAli Nurdin menegaskan, meskipun ada ungkapan "summu tashihu (puasa itu menyehatkan)". Namun menurut dia, tidak semua praktik puasa dapat menjadikan seseorang tetap sehat dan produktif di bulan Ramadhan.
Banyak fenomena orang berbuka puasa namun kemudian malas beribadah karena alasan kekenyangan. Begitupun setelah sahur terkadang orang malas beraktifitas dan kembali tidur karena kekenyangan.
"Al-Qur'an mengajarkan kita agar tidak berlebihan. Qulu, wasrabu, wala tusrifu (makan dan minumlah, namun jangan berlebihan), badah puasa bukan sekadar menunda atau mengalihkan jadwal makan, tapi mengendalikan diri dari sesuatu yang berlebihan," katanya.
Baca Juga: Cegah Efek Kurang Tidur selama Ramadhan dengan Cara IniWakil Retor III Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an (PTIQ) Jakarta itu menjelaskan pentingnya mengkonsumsi makanan yang baik bagi tubuh. Sesuai firman Allah:
Ya ayyuhannas kullu min ardhi halalan thayyiban, "Wahai sekalian manusia makanlah dari bumi makanan yang halal dan baik."
"Kata thayyiban, bermakna makanan yang baik untuk kesehatan yang kadarnya ditentukan individu masing-masing. Jadi belum tentu baik menurut seseorang, baik juga bagi orang lain," ujarnya.
Lebih lanjut, Ali Nurdin menyanyangkan fenomena mayarakat Indonesia di bulan puasa. Walaupun jadwal makan berkurang, tetapi konsumsi masyarakat malah naik.
"Karena seringkali hal yang tidak kita konsumsi di luar Ramadhan, seringkali dikonsumsi di Ramadhan. Itulah yang membuat kita seringkali bersikap berlebihan," tuturnya.
Baca Juga: Kultum Ramadhan 1443 H: Dua Hal yang Dikhawatirkan Nabi(zhd)