LANGIT7.ID - , Jakarta - Sejak minggu lalu arus mudik jelang Hari Raya Idul Fitri mulai tampak padat di berbagai titik. Libur Lebaran dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk pulang kampung dan sudah menjadi tradisi tahunan.
Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), Sunyoto Usman mengatakan mudik umumnya dilakukan karena mereka ingin bertemu sanak saudara di kampung halaman.
Baca juga: DPR Minta Pemerintah Perhatikan Perlindungan Anak dalam MudikMenurut dia, ada tiga hal yang biasa dihubungkan dengan mudik yakni agama, sosial, dan informasi.
"Dalam agama, mudik merupakan bagian dari silaturahmi karena bersilaturahmi pada saat hari besar seperti ini pahalanya lebih tinggi. Maka itu, orang berlomba-lomba untuk silaturahmi," ujar Sunyoto kepada Langit7, Kamis (28/4/2022).
Selanjutnya, sosial. Sunyoto menuturkan, secara sosial budaya pemudik ingin mencocokkan kembali dengan kultur asalnya. Maka itu, mudik menjadi penting sebagai media untuk masuk menjadi bagian dari komunitasnya lagi.
"Lalu, diekspresikan lagi dengan reuni sambil Syawalan. Itu kan lebih kultural dan juga lebih bernilai. Kemudian mempererat lagi, dan cocokkan kembali dengan kultur lamanya," katanya.
Selanjutnya, Kaprodi S3 Politik Islam Pasca Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menyebut informasi merupakan salah satu bagian penting dari mudik.
Ia lalu membaginya jadi dua bagian yakni informasi keberhasilan dan informasi peluang kerja.
Baca juga: Arus Mudik Lebaran 2022, Gerbang Tol Jakarta-Cikampek Padat"Pertama informasi keberhasilannya di rantau, bahwa ia sudah bekerja betul, karena biasanya orang rantau seringkali ditanya hasilnya. Meskipun tidak secara terang-terangan," ungkapnya.
"Kedua, bisa informasi tentang peluang-peluang kerja di perkotaan. Jadi ia (pemudik) nanti menjadi sumber informasi oleh tetangga-tetangga atau saudaranya tentang kemungkinan-kemungkinan peluang kerja untuk ia merantau," lanjut dia.
Umumnya yang terjadi, mereka akan menjadikannya sebagai tempat penampungan ketika awal-awal orang-orang tersebut sampai di kota.
Lebih lanjut, terkait kapan sebenarnya tradisi mudik ini terjadi. Sunyoto berkata hal ini terjadi sejak orang-orang mulai menjadikan kota sebagai tempat mencari nafkah, menempuh pendidikan dan tujuannya lain.
"Tradisi mudik itu dimulai sejak orang-orang menjadikan kota sebagai tumpuan tempat mencari peluang kerja, menempuh pendidikan dan lainnya. Akhirnya mereka yang mempunyai keluarga di desanya, akan kembali jika adanya perayaan besar seperti Lebaran dan lainnya," tuturnya.
Baca juga: Revalina S Temat Mudik Paling Jauh ke Bandung"Intinya, itu merupakan bagian dari organisasi yang mengisi sektor-sektor terutama informal dan juga sebagian formal di perkotaan, nah sejak itu kemudian menjadi tradisi setiap tahun mereka mudik," pungkas Sunyoto.
(est)