LANGIT7.ID, Jakarta - Ternyata wanita di zaman
Rasulullah juga berkarier di luar rumah. Mereka bekerja membantu suami memenuhi kebutuhan atau belajar demi pendidikan lebih baik.
Hal ini mematahkan stigma bahwa muslimah tidak boleh menjadi
wanita karier. Sebab, kisah ini menjadi bukti bahwa Islam membolehkan wanita untuk melanjutkan pendidikan tinggi atau bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Nabi sendiri tidak melarang seorang wanita keluar rumah untuk keperluan ibadah, belajar, dan untuk keperluan lainnya” kata Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi, Nur Fajri Romadhon dalam keterangannya, Kamis (2/6/2022).
Hal itu juga tertulis dalam QS. AL Qashash ayat 23, di mana Allah mengisahkan dua putri seorang salih di negeri Madyan, yang mereka bekerja di luar rumah dalam ranah peternakan demi membantu sang ayah yang sudah lansia.
Baca Juga: Kisah Rasulullah Memuji Pemuda Bekerja di Pagi ButaJuga disebutkan dalam sebuah hadits: “Sungguh telah diizinkan bagi kalian wahai para wanita untuk keluar rumah ketika ada kebutuhan.” (HR. Al-Bukhari).
Berikut daftar wanita karir di zaman Rasulullah, mengutip laman Muhammadiyah.
Siti Zainab binti JahsyinSiti Zainab memiliki keterampilan menyamak dan menjahit. Dia dikenal suka bekerja, yang hasilnya pun banyak dikeluarkan di jalan Allah.
“Zainab adalah wanita yang memiliki keterampilan tangan luar biasa. Ia menyamak kulit serta menjahit pakaian. Ia bersedekah dengan hasil penjualan kerajinan tangan tadi di jalan Allah ‘azza wajalla.” (HR. Al-Hakim).
Aisyah binti Abu BakarAisyah dikenal sebagai wanita yang juga melakukan aktivitasnya di luar rumah. Walaupun tidak profitable secara materi, tetapi istri Rasulullah ini kerap mengajari masyarakat dari balik tirai hijab dan diminta menjawab pertanyaan dari balik tirai hijab tersebut.
Qaylah Ummu Bani ‘AnmarQaylah juga dikenal melakukan aktivitasnya di luar rumah, yakni perniagaan. Suatu ketika, Qaylah berkonsultasi langsung kepada Rasulullah tentang etika dan fikih jual-beli, dan ini sebagai pertanda historis bahwa dirinya memang seorang pedagang.
Disebutkan, Qaylah melakukan aktivitas perniagaannya sendiri. Berbeda dengan Khadijah binti Khuwailid yang merupakan pebisnis tapi tidak terjun langsung dalam jual-beli.
Asy-Syifa’ binti ‘Abdillah Al-‘AdawiyyahDikenal sebagai wanita cerdas, Asy-Syifa menyibukkan diri dengan karirnya sebagai guru tulis-menulis bagi para sahabat perempuan. Bahkan, dia juga melayani praktik ruqyah dan mengajar ruqyah.
Selain itu, Asy-Syifa pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, juga sempat ditunjuk sebagai manajer salah satu divisi di dinas kepengurusan pasar.
Samra’ binti NuhaikSamra’ pernah diamanahi jabatan pekerjaan semacam polisi, dalam sebuah riwayat lain: di pasar-pasar. Sementara dalam riwayat Imam Thabrani disebutkan, Samra’ mengenakan baju dan jilbab tebal, menertibkan manusia sembari memegang alat pukul di tangannya (melakukan amar makruf nahi munkar).
Itulah beberapa contoh muslimah sebagai wanita karir yang ternyata ada di zaman Rasulullah. Kisah tersebut menjadi pelajaran bagi umat, khsusunya muslimah bahwa Islam mengizinkan wanita untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk berkarir dan melanjutkan pendidikan.
(bal)