LANGIT7.ID, Jakarta -
Jemaah haji Indonesia sebaiknya tidak memaksakan diri untuk mencium hajar aswad ketika
tawaf. Cukup mengangkat tangan dari kejauhan simbol menciumnya.
Keinginan untuk mencium hajar aswad lazim bagi jemaah haji. Namun hukum sebenarnya tidak lah wajib, hanya dianjurkan bila kondisinya memungkinkan.
Saat jemaah haji ramai dari berbagai negara, kesempatan mencium hajar aswad malah berpotensi membahayakan keselamatan jemaah tersebut. Terlebih, banyak jemaah bertubuh besar.
"Ketika sangat padat dapat membahayakan keselamatan jamaah itu sendiri," kata Khorizi H Dasir dalam bukunya Yuk Dakwah Haji Tawaran Materi bagi Pendakwah dikutip, Selasa (7/6/2022).
Baca Juga: Ini Kegiatan Jemaah Indonesia Jelang Puncak Haji 2022Sahabat Ummar Bin Khattab pernah mengatakan, "Aku tahu kamu cuma batu biasa, tidak memberi manfaat dan tidak menimbulkan bahaya. Andai kata aku tidak menyaksikan Rasulullah SAW mencium engkau aku pun tak akan menciummu. Kemudian ia mendekatinya dan menciumnya."
Jemaah haji sebaiknya fokus pada ibadah-ibadah yang menjadi rukun haji. Bukan berarti juga meninggalkan sejumlah amalan sunnah, namun semua itu tetap harus melihat porsi dan kondisi.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Budi Sylvana mengatakan, penyebab tingginya kematian jemaah haji Indonesia diduga karena terlalu memporsir sejumlah ibadah sunnah.
"Padahal ketika berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang membutuhkan energi besar, banyak jamaah kelelahan dan meninggal dunia," kata Budi.
Porsir ibadah sunnah ini membuat para jemaah tak kuat ketika menjalani ritual di Arafah, Muuzdalifah, dan Mina. Mereka harus berjalan kaki dalam cuaca panas sekitar 7 kilometer selama 3 hari hingga akhirnya kelelahan.
"Akibatnya, bagi yang kondisi badannya telah melemah, jamaah haji berisiko tinggi rentan mengalami kematian," ujar dia.
(bal)