LANGIT7.ID - Selfie atau berswafoto merupakan hal wajar bagi masyarakat pada era media sosial saat ini. Hal serupa juga terjadi bagi sebagian umat Islam yang melaksanakan
ibadah haji di Tanah Suci.
Habib Ali Al-Jufri, menilai, berswafoto saat
beribadah haji di Tanah Suci sebenarnya sah-sah saja dilakukan, asal niat hanya untuk kenang-kenangan, bukan riya apalagi takabur. Mengunggah foto di media sosial juga tidak dibenarkan jika niat riya dan takabur.
Namun, jika niat mengunggah foto untuk memberikan motivasi kepada sesama muslim agar berhaji, maka sah saja dilakukan.
Di sisi lain, Habib Ali mengingatkan, setiap orang tidak boleh menghakimi orang-orang yang berswafoto atau mengunggah hasil jepretan di media sosial. Menghukumi orang lain sangat berbahaya.
Baca Juga: Fokus Ibadah, Jemaah Haji di Tanah Suci Diingatkan Kurangi Swafoto
“Haji merupakan seruan Tuhan, Allah yang menghukumi niat setiap makhlukNya,” kata Habib Ali dalam ceramah di sebuah stasiun televisi yang disiarkan kanal YouTube Sanad Media, Sabtu (18/6/2022).
Maka itu, penting bagi setiap jamaah haji mengintropeksi diri sendiri. Muhasabah bertujuan mengecek niat dalam hati, apakah berswafoto itu memiliki unsur riya atau takabur. Jika iya, maka dianjurkan untuk segera bertaubat.
“Perbuatan itu (berswafoto) bukan hal yang salah,” ucap Habib Ali.
Dia menjelaskan, berswafoto memiliki dua sisi. Sisi pertama ada kalanya bentuk kesombongan. Itu tergolong negatif dan buruk. Tentu, hal ini tidak dibenarkan dalam Islam. Sebab, ibadah seseorang tergantung niat.
Sisi kedua merupakan bentuk kegembiraan atas karunia Allah. Itu juga merupakan bentuk ekspresi nikmat dan ungkapan syukur atas nikmat yang Allah. Tidak semua umat Islam bisa melaksanakan haji, maka suatu kesyukuran jika menjadi orang terpilih berangkat ke Tanah Suci.
“Ini suatu hal yang lain, bersyukur kepada Allah Ta’ala bisa melaksanakan ibadah di sana, lalu ada keinginan mendokumentasikan momen itu, bisa terus melihatnya, mengingat atas karunia Allah, dan mendorong orang lain yang akan melihat foto ini untuk berkunjung ke tempat mulia ini,” tutur Habib Ali.
Baca Juga: Berjuang Menabung 12 Tahun, Tukang Sapu di Pontianak Bisa Naik Haji
Maka itu, kembali ke niat setiap individu. Hanya diri sendiri yang mampu menilai niat kita sendiri, bukan orang lain. Itu menunjukkan pentingnya introspeksi atas segala amal yang dikerjakan.
“Ini dapat terlihat dari niatmu. Setiap orang mengetahui dirinya sendiri dan sangat bagus untuk menilai diri sendiri. Allah sangat Dermawan. Dermawan juga penyayang. Mintalah pemberian-Nya. Bahkan, kalau kita melakukan sesuatu yang menggagalkan pahala dan ganjaran, jika kita kembali kepada-Nya, Allah akan berikan pahala dan ganjaran, bahkan lebih dari itu,” ungkap Habib Ali.
(jqf)