LANGIT7.ID, Jombang - Juru Bicara Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso Jombang, Angga, menegaskan, kasus asusila oleh putra pengasuh Ponpes Shiddiqiyah, Kiai Mukhtar Mukti, berinisial MSAT merupakan rekayasa.
“Praktek asusila di pondok sudah dipastikan itu rekayasa, jadi santri-santri ini dipaksa untuk mengaku dengan tekanan-tekanan,” kata Angga kepada LANGIT7. ID, Sabtu (9/8/2022).
Angga menjelaskan, lima santriwati yang diduga jadi korban sudah dipanggil secara kekeluargaan. Mereka mengakui tidak pelecehan seksual. Dari percakapan itu, pihak pesantren menemukan ada indikasi lima santri itu mendapat tekanan.
Rekayasa kasus ini bermula dari perseteruan antara mantan Istri KH Mukhtar yang bernama Ibu Endang dengan keluarga istri KH Mukhtar saat ini.
Baca Juga: Katib Syuriah PBNU Kritik Langkah Kemenag Bekukan Ponpes Shiddiqiyyah Jombang
Berbagai polemik terjadi sehingga memunculkan dua kubu di internal pesantren. Angga menyebut Ibu Endang memiliki niat tidak baik terhadap perkembangan pesantren.
“Indikasinya ada perebutan pengaruh di pondok dan kita melihat fakta-fakta yang ada. Kemudian, ada salah satu anak daripada grup sebelah Ibu Endang itu menyatakan ke beberapa teman-temannya, bahwa dia yang ingin menghancurkan,” tutur Angga.
Menurut Angga, Ibu Endang sengaja mengakomodir lima santriwati untuk mengaku sebagai korban pencabulan. Maka itu, dia meminta agar penyidik kepolisian memanggil Ibu Endang untuk dimintai keterangan.
“Ibu Endang ini adalah ibu asuh dari kelima santri-santri itu di pondok pesantren. Kelima santri yang dikatakan korban ini ada beberapa yang statusnya santri dan ada yang sudah dikeluarkan,” jelas Angga.
Baca Juga: Kecam Kasus Pencabulan MSAT, RMI NU Imbau Pesantren Jaga Integritas
Kepolisian Dinilai Hanya Melihat Kasus dari Permukaan SajaSelain itu, Angga, mengatakan, pihak kepolisian hanya tahu sebatas permukaan dari kondisi keseluruhan yang tengah terjadi di internal Pesantren Shiddiqiyyah.
Angga menyebut, pihak pesantren punya alasan tidak segera menyerahkan MSAT ke pihak kepolisian. Itu karena kasus tersebut hanya rekayasa semata, akibat konflik internal yang tengah menimpa pesantren.
Sebelumnya, Polda Jatim mengerahkan ratusan personel untuk menangkap MSAT yang berada di pesantren. Pihak kepolisian menyebut diadang oleh sejumlah orang dan terpaksa menangkap mereka karena menghalangi petugas.
“Bayangin saja 300 orang diangkut dan lagi ada ratusan anak kecil di situ, 55 anak diangkut. Itu bukan kita melibatkan anak kecil Pak Polisi tetapi itu saatnya pembagian raport sayang sekali,” kata Angga.
Baca Juga: PBNU Nilai Demonstrasi Kekuatan Aparat di Ponpes Shiddiqiyyah Berlebihan
Menurut Angga, pihak kepolisian belum mendalami kasus itu secara mendalam. Polisi hanya melihat permukaan dan bertindak berdasarkan laporan sepihak.
“Makanya, apakah ini pengalihan isu nasional yang sedang terjadi dengan melibatkan kita atau seperti apa?,” kata Angga.
MSAT saat ini sudah menyerahkan diri ke polisi, setelah melewati beberapa insiden di lingkungan pesantren. Dia langsung dibawa ke Mapolda Jawa Timur dan ditahan di Lapas Medaeng, Sidoarjo.
(jqf)