LANGIT7.ID - , Jakarta - Mencukur
bulu kemaluan merupakan salah satu kegiatan yang dianjurkan dalam Islam. Meski demikian, mencukur bulu kemaluan harus dengan cara yang tepat agar kebersihan dan
kesehatan kulit di sekitarnya tetap terjaga.
Disebutkan dalam Hadist Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibn Majah
عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر من الفطرة قص الشارب وإعفاء اللحية والسواك والاستنشاق بالماء وقص الأظفار وغسل البراجم ونتف الإبط وحلق العانة وانتقاص الماء يعني الاستنجاء بالماء
“Dari A’isyah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia); Memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencakup bulu pubis dan
istinjak (cebok) dengan air. ”
Baca juga: Mencukur atau Merapihkan Alis dalam Islam, Bolehkah?Menurut pendakwah
Ustadz Khalid Basalamah, bulu kemaluan yang diciptakan Allah SWT adalah tidak sia sia. Artinya sekecil apapun ciptaan Allah SWT ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya.
"Di antara fungsi dan manfaat bulu kemaluan dari segi kesehatan ialah menyerap keringat. Mengingat tempat itu tidak menerima udara," kata Ustadz Khalid dikutip dari kanal Audio Sunnah, Jumat (26/8/2022).
Dia menambahkan, di posisi itu keringat yang keluar lebih banyak. Sehingga bulu kemaluan berfungsi untuk menyerap keringat tersebut dan menghalangi gesekan antara kulit, sehingga tidak terjadi pengelupasan pada bagian tubuh yang peka ini.
Terkait aktivitas mencukur bulu kemaluan, Ustadz Khalid menjelaskan dalam
syariat Islam dianjurkan untuk mencukurnya.
"Artinya, bakteri-bakteri yang ada sudah harus dibuang. Dan dengan
hikmah Allah, karena dia (bulu kemaluan) lembap maka dia akan tumbuh lagi," jelasnya.
Baca juga: Hukumnya Sunnah, Ini Manfaat Kesehatan Mencabut Bulu KetiakDokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Perkumpulan
Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dr. Tofan Widya Utami, Sp.OG (K) menyarankan untuk tidak mencukur habis bulu pada organ genital. Hal tersebut, lanjut dr Tofan, demi menghindari terjadinya masalah.
"Rambut yang sepele-sepele kalau kita bilang itu ada gunanya semua. Rambut (di area kemaluan) jangan dikerok,
di-waxing supaya bersih kayak bayi, tetapi secara baik gunting sisakan 0,5 cm," ujarnya dalam kegiatan Ladies Talk “Stress Berlebih Ganggu Area Kewanitaanmu!”, dikutip dari Antara News.
Menurut Tofan, ini demi menghindari timbulnya gatal saat rambut baru tumbuh. Sebab, rasa gatal memicu seseorang untuk menggaruk, padahal tangannya belum dicuci.
Tata cara mencukur bulu kemaluan juga disebutkan oleh As-Syaukani yang menyebut perkataan Imam an-Nawawi:
“Yang paling afdhal adalah dengan dicukur. Yang dimaksud bulu kemaluan adalah rambut yang tumbuh di atas kemaluan lelaki atau sekitarnya. Demikian pula rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan wanita. Dinukil dari Abul Abbas bin Sarij, (termasuk bulu kemaluan) adalah bulu yang tumbuh di sekitar lubang dubur.” (Nailul Authar, 1: 141)
Baca juga: Cukur atau Cabut Bulu Ketiak, Begini PenjelasannyaMengutip dari Medical News Today dan Healthline, menggaruk area kemaluan yang gatal justru memperburuk rasa gatal karena mengiritasi ujung saraf di area tersebut.
Adanya rambut di organ genital memberi perlindungan, termasuk mencegah kotoran memasuki vagina. Ini berfungsi semacam bantalan untuk melindungi terhadap gesekan saat berhubungan intim dan menjaga organ tetap hangat.
Menurut Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa’i, Hendaknya, bulu dan rambut yang disyariatkan untuk dipotong, tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.
وقت لنا في قص الشارب وتقليم الأظفار ونتف الإبط وحلق العانة أن لا نترك أكثر من أربعين ليلة
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari.”
Baca juga: 7 Amalan Sunnah Hari Jumat, Pakai Outfit Terbaik Hingga Potong Kuku(est)