LANGIT7.ID - , Jakarta - Pemerintah Pusat telah mengumumkan kenaikan harga
bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, solar dan Pertamax, Sabtu (3/9/2022). Diketahui, harga BBM
Pertalite naik menjadi Rp10.000, sementara
solar naik jadi Rp6.800 dan Pertamax jadi Rp14.500 per liter.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (
Indef) Nailul Huda mengatakan kenaikan tersebut memunculkan efek domino.
Baca juga: Harga Lebih Murah dari Pertalite, Stok BBM Milik Vivo Ludes"Dampak dari pencabutan subsidi BBM ke pertalite ini sangat luas. Efek dominonya sangat berantai. Pertama
inflasi, dengan kenaikan harga Pertalite itu akan berimbas ke barang-barang lainnya," ujar Huda pada Langit7, Senin (5/9/2022).
Bahkan, Huda memperkirakan inflasi menembus 8-8,5 persen setelah
kenaikan harga BBM. Peningkatan inflasi ini mengakibatkan penurunan konsumsi sekitar 0,03 persen.
Akibatnya, ekonomi masyakarat bisa menurun hingga 3 triliun dan mengakibatkan peningkatan
kemiskinan hingga 9.96 persen.
"Ekonomi kita akan turun sekitar 3 triliun dan ada penambahan
pengangguran sekitar 30.000 jiwa. Dan yang terjadi kemiskinan akan naik menjadi 9,96 persen hingga sampai 10 persen. Jadi efek dominonya itu berantai. Ini yang tidak kita harapkan," tuturnya.
Lebih lanjut, Huda menyebut selain peningkatan kemiskinan efek kenaikan BBM juga dapat mencoreng kinerja
Presiden Joko Widodo.
Baca juga: Harga Pangan Naik Pascakenaikan Harga BBM, Ini Daftarnya"Efeknya akan berisiko tinggi, yaitu bisa mencoreng kinerja apik dari Pak Jokowi selama beberapa tahun terakhir. Di mana bisa mengendalikan inflasi, bisa menurunkan tingkat kemiskinan hingga dua digit," pungkasnya.
(est)