LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mengapresiasi pertemuan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Ahad (4/9/2022).
Anwar berharap pertemuan tersebut bisa menghasilkan keputusan atau kebijakan yang bermanfaat dalam kehidupan umat beragama, berbangsa, dan bernegara. Itu karena dua ormas itu tak hanya memiliki banyak anggota, tapi juga amal usaha seperti sekolah, pesantren, rumah sakit, dan telah mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, menurut Anwar dua ormas tersebut belum mampu menggali dan menggerakkan potensi yang ada pada diri mereka. Begitu juga umat Islam yang ada di lingkaran dua ormas tersebut. Itu menyebabkan, peran dan kontribusi umat islam di Tanah Air tampak belum maksimal.
"Bahkan, dalam beberapa hal terutama dalam mewarnai perjalanan kehidupan politik dan ekonomi di negeri ini peran dari kedua ormas islam tersebut masih sangat jauh dari yang diharapkan,” kata Anwar melalui keterangan tertulis, Senin (5/9/2022).
Baca Juga: 3 Cara Mewujudkan Persatuan Islam dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah
Menurut Anwar, ada banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut. Salah satu yang sangat penting adalah belum adanya kesamaan visi, strategi, dan program tentang masalah yang terkait dengan persoalan keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan.
“Untuk itu kedepan kita harapkan agar kedua ormas ini bisa lebih meningkatkan lagi frekuensi dan kualitas pertemuan dan silaturahminya sehingga diharapkan peran dan kontribusi umat islam di tanah air dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa serta negara akan semakin meningkat secara signifikan,” tutur Anwar.
Anwar lalu menyampaikan satu ungkapan yang mesti diperhatikan para tokoh dua ormas itu serta umat Islam. Ungkapan tersebut berasal dari Soedirman, “Jika kalian ingin menang maka kalian harus kuat. Untuk bisa kuat maka kalian harus bersatu. Untuk bisa bersatu maka kalian harus rajin membangun silaturahmi.”
“Silaturahmi tersebut sudah dimulai kemarin oleh KH. Yahya Cholil Staquf dengan bertamu ke PP Muhammadiyah. Semoga saja silaturahmi tersebut bisa berlanjut dan berjalan dengan baik sehingga bisa memberi arti dan makna yang lebih besar bagi kemajuan umat dan bangsa serta negara yang sama-sama kita cintai ini. Semoga,” ungkap Anwar.
Hasil Pertemuan NU dan MuhammadiyahDalam pertemuan NU dan Muhammadiyah, Gus Yahya menyampaikan, dua ormas tersebut membahas potensi ta’awun antar kedua belah organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Kedua, dua ormas itu juga ada keinginan kerja sama yang lebih erat.
“Bahkan, kata mulai membicarakan kemungkinan kerja sama kelembagaan antara kedua orang ini dalam mengakses berbagai masalah di tengah masyarakat kita,” kata Gus Yahya, dikutip laman resmi Muhammadiyah.
Baca Juga: Prof Hamid: Islam Selalu Ajarkan Pentingnya Ukhuwah Islamiyah
Untuk mengawali keinginan kerja sama itu, PBNU mengundang Muhammadiyah terlibat dalam forum Religion of Twenty (R20) yang akan digelar pada 2-3 November 2022. Dalam kesempatan itu, Haedar Nashir juga mengungkapkan, Muhammadiyah siap melangkah bersama-sama untuk menjalankan berbagai program kolaboratif.
“Tadi kita memang mendiskusikan melangkah lebih jauh untuk program-program kerja sama yang lebih melembaga dan memang umat bangsa kita memerlukan peran konkrit lagi dari Muhammadiyah dan NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia,” kata Haedar Nashir.
Kerja sama itu akan diwujudkan dalam bentuk kerja-kerja pencerdasan, pencerahan, dan pemberdayaan dan tidak kalah penting menyatukan, membangun ukhuwah yang lebih meluas di lingkungan umat beragama dan bangsa Indonesia. Haedar menyebut, NU dan Muhammadiyah sudah sepakat melakukan pertemuan lanjutan.
“Terakhir, kami juga menyambut baik undangan dan program R20 yang disiapkan oleh PBNU dan Insya Allah akan berjalan dengan baik, terus menggalang dialog dan kerja sama antara agama di seluruh kawasan sebagai ikhtiar membangun dunia yang lebih damai, saling terkoneksi,” ucap Haedar.
(jqf)