LANGIT7.ID, Jakarta - Bertaubat merupakan perintah Allah Ta'ala yang ditunjukan secara teus menerus. Terutama bagi siapapun yang ingin diampuni segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
Lantas bagaimana syarat-syarat dalam bertaubat? Pendakwah, Ustaz Muhammad Abduh Tausikal menjelaskan terdapat lima syarat-syarat diterimanya taubat, pertama ikhlas.
Bertaubat dengan ikhlas kepada Allah Ta'ala menjadi syarat karena taubat merupakan salah satu amalan keta'atan. Hal tersebut menurutnya, sebagaimana yang terdapat dalam penggalan Surat Al Bayyinah Ayat 5, Allah Ta'ala berfirman:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآء
Artinya: "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama."
"Taubat itu adalah ibadah, maka harus diawali dengan ikhlas, jadi seseorang yang hendak taubat bukan karena uang, kekuasaan, dan lainnya. Namun dia taubat murni ikhlas karena Allah Ta'ala," kata Ustaz Tausikal dalam tayangan YouTube Rumaysho TV, dikutip Rabu (5/10/2022).
Kedua, menyesali dosa yang telah lalu sehingga menurutnya, menyesal juga menjadi syarat. Artinya ketika seseorang bertaubat, dia tidak senang dengan dosa yang telah dia lakukan dahulu.
Baca Juga: Gus Baha: Penting, Menjaga Niat Selalu Taat kepada Allah dalam Hidup"Dulu misalnya pernah mungkin ada yang melakukan pembunuhan, maka kalau bertaubat dia pasti menyesali kenapa dahulu dia bisa melakukan hal itu," ujarnya.
Ketiga, kembali ta'at dan berhenti dari maksiat. Ustaz Tausikal menjelaskan, jika seseorang tidak berpuasa di bulan ramadhan, maka cara taubatnya dengan kembali berpuasa.
"Apakah perlu puasanya di qadha atau tidak yang dia tinggalkan dengan sengaja? Ingat, kalau meninggalkan puasa dengan sengaja atau malas-malasan, maka gantinya dia tidak bisa lakukan dengan puasa," ujarnya.
Menurut dia, hal tersebut berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw, yaitu barang siapa melakukan amalan yang tidak ada tuntunan, termasuk meningalkan puasa dengan sengaja, maka amalannya tertolak.
"Jadi kalau dia ganti amalan puasanya maka akan tertolak, dan tidak bisa. Maka gantinya adalah dengan bertaubat, saat dia bertemu bulan Ramadhan, dia melakukan puasa," tuturnya.
Baca Juga: Tafsir Surat Al-Muminun Ayat 42: Setiap Umat Memiliki MasanyaKeempat, bertekad tidak mau mengulangi dosa itu di masa mendatang. Ustaz Tausikal menerangkan, perlu digarisbawahi bertekad dan tidak dijelaskan dosanya tidak boleh diulangi lagi.
"Karena kalau dikatakan dosanya tidak boleh diulang lagi, ada seseorang yang tetap jatuh di lubang yang sama sampai dua kali. Maka disebutkan bertekad tidak mau mengulangi dosa itu lagi di masa yang akan datang," katanya.
Kelima, berkaitan dengan hak manusia atau sesama mesti diselesaikan. Maksudnya apabila seseorang mempunyai utang dan ingin bertaubat, maka cara bertaubatnya adalah dengan menyelesaikan utang.
"Jadi tidak bisa dia ikhlas bertaubat, menyesal, betekad tidak akan mengulangi lagi, serta meninggalkan maksiat yang ada akan tetapi tidak melunasi hutangnya, berarti dia belum bertaubat," ujarnya.
(zhd)