LANGIT7.ID, Jakarta - Kehidupan seorang muslim dalam 24 jam harus produktif. Terlebih, Allah telah memberikan tata-cara mengatur waktu bagi seorang muslim selama hidup di dunia.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyebut ada banyak ayat dalam Al-Qur’an tentang manajemen waktu.
“Ada banyak ayat-ayat tentang waktu dalam seperti Surah Al-Ashar, Al-Fajr, dan Al-Lail. Itu disebutkan untuk memberikan gambaran pembagian waktu kepada umat Islam dan cara pemanfaatannya,” kata UAH dalam tausiahnya di Akhyar TV, dikutip Senin (17/10/2022).
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membagi waktu siang dan malam. Setelah membagi, maka dianjurkan mempelajari alasan fungsi siang dan malam. Dengan begitu, hari-hari setiap muslim bisa produktif.
Baca Juga: Tujuan Hidup Manusia di Dunia Menurut Al-Qur’an
وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙوَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ
“Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11).
Dalam Al-Qur’an, siang adalah waktu untuk produktif beraktivitas. Sementara, malam ditetapkan sebagai waktu untuk istirahat.
“Kalau anda tukar, malam beraktivitas pasti siang istirahat. Pasti itu. Makanya nabi tidak pernah begadang kecuali ada perlu, dan perlunya pun dibenarkan oleh syariat,” kata UAH.
Baca Juga: Pesan Ustadz, Jangan Bawa-Bawa Urusan Dunia saat Sedang Salat
Setelah memetakan waktu siang dan malam, maka mulai atur waktu menggunakan waktu shalat lima waktu. Pertama, waktu shalat fajar yang berarti awal-awal.
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
“Dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing,” (QS. At-Takwir: 18)
“Subuh adalah waktu untuk memulai mengatur aktivitas. Matahari muncul, tumbuhan keluarkan oksigen, maka kita atur dari subuh. Rencana harian itu bawa ke shalat subuh, karena akan disaksikan oleh Allah dan para malaikat. Setelah shalat, minta dimudahkan segala urusan kepada Allah,” kata UAH.
Baca Juga: UAH: Perkara Dunia Sudah Diatur, Akhirat Belum Ada Jaminan
Setelah Subuh, maka masuk waktu Dzuhur. Dzuhur bisa digunakan untuk rehat sejenak dari segala aktivitas. Waktu ini cocok untuk merenggangkan otot-otot yang tegang karena banyaknya aktivitas.
Namun, UAH mengingatkan, semua aktivitas itu harus berlandaskan iman kepada Allah Ta’ala. Orang yang hanya mengejar dunia saja, maka muncul Al-Ashar. Menurut UAH, Ashar adalah setiap waktu yang dilalui manusia.
وَالْعَصْرِۙاِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙاِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ
“Demi Waktu. Sungguh, manusia dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Asr: 1-3).
Baca Juga: Alasan Salat Dzuhur dan Ashar Bacaan Al Quran Dibaca Sirr
UAH mengingatkan, semua waktu yang dilalui adalah modal buat manusia. Tidak semua manusia bisa memanfaatkan modal itu dengan baik. Ada yang rugi. Penyebab utama kerugian itu karena tidak beriman kepada Allah.
“Makanya, semua aktivitas harus dikerjakan dengan iman, maka semua aktivitas itu menjadi amal shalih. Karena setelah kalimat iman adalah amal shalih,” ujar UAH.
Jika segala aktivitas tidak dikerjakan berlandaskan iman, maka akan datang waktu Maghrib (tenggelam). Semua manusia memiliki ajal. Maka, keseharian muslim harus terkonsep sejak awal.
Baca Juga: Pesan Rasulullah, Manfaatkan Lima Perkara Sebelum Hal Ini Terjadi
“Kalau anda tidak kerjakan itu (amal dengan iman), maka datang waktunya maghrib (tenggelam). Semua waktu akan ada di penghujungnya,” ujar UAH.
Waktu itu memiliki ujung. Itulah yang disebut isya. Ada dua kata yakni asya dan Isya yang berasal dari kata ma’isyah (hidup). Asya merupakan kosakata bahasa Arab yang memiliki harakat di atas.
“Setiap harakat yang ditarik ke bawah maka hilang, isya kehidupan berakhir. Setiap yang ‘asya (hidup) pasti akan berakhir dengan isya. Maka kita akan tidur, dan besok belum tentu hidup kembali. Maka nabi mengajarkan beristighfar sebelum tidur, evaluasi, dan memohon kepada Allah,” ujar UAH.
(jqf)