LANGIT7.ID, Jakarta - Tafsir surat Al Ahzab ayat 59 menerangkan keutamaan
muslimah berhijab. Perempuan yang menutup aurat dengan baik tentu akan lebih terjaga dari tindak kejahatan.
Perempuan yang membuka aurat di tempat umum malah dipandang kurang baik kepribadiannya. Padahal hal ini belum tentu benar.
Sampai ada istilah 'Jilbab hati dulu baru jilbab fisik' atau 'Tidak mengapa tak pakai jilbab, yang penting hatinya baik'. Benar kah logika tersebut?
Baca Juga: Hukum Muslimah Jadi Model Hijab Syari, Ini Pandangan UstadzBerikut pandangan beberapa ustadz mengenai keutamaan
berhijab bagi muslimah:
1. Ustadz Abdul SomadUstadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan bahwa berjilab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah. Seorang muslimah wajib mengenakan jilbab sebab Allah yang memerintahkan, tak menyoal apakah hatinya baik atau buruk.
UAS mencontohkan, kurang baik apa hati Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah. Meski demikian, Ummul Mukminin tetap mengenakan jilbab.
Untuk mencontohkan betapa salah logika pernyataan yang menyatakan tidak mengapa tak berjilbab yang penting hatinya baik.
Misalnya ada seorang anak perempuan tidak memakai celana, lalu ditanya, "Kok tidak pakai celana?" lalu dijawab "Yang penting hatinya baik,” kata UAS dalam salah satu ceramahnya."
Menurut UAS, berjilbab merupakan ajaran Islam bukan tradisi jahiliyah. Dia menjelaskan, sebelum Islam, masyarakat jahiliyah justru telanjang saat thawaf di Ka’bah, lalu Islam datang mengajarkan cara berpakaian saat hendak beribadah ke masjid.
2. Buya YahyaBuya Yahya menjelaskan, perempuan yang mengatakan "Yang penting hatinya" menunjukkan sikap sombong. Perempuan tersebut sombong karena menganggap hati muslimah yang berjilbab tidak baik.
"Ini orang paling sombong di dunia dan akhirat. Berarti dia merendahkan orang pakai kerudung hatinya jelek. Sayyidah Fatimah (anak perempuan Rasulullah) apakah hatinya jelek. Dia tidak sadar kalau dia telah sombong," kata Buya Yahya.
Alangkah baiknya, kata Buya Yahya, perempuan yang belum mampu berjilbab senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar dimantapkan hatinya sehingga dimudahkan jalannya untuk segera berjilbab. Itulah jalan yang paling selamat dan disukai Allah SWT.
"Yang penting kan hatinya. Masyaallah.. Hatimu memang kayak apa? Jangan terperdaya dengan fatwa picisan, itu salah. Bukan jaminan seperti itu (berjilbab hatinya baik), tapi hukum (kewajiban berjilbab) itu sudah jelas," kata Buya Yahya.
3. Yahya Badru SalamUstadz Yahya Badru Salam memberi tips menjawab pernyataan "Tak berjilbab yang penting hatinya baik." Menurutnya, muslimah yang berhati baik pasti menaati perintah Allah SWT untuk mengenakan jilbab.
"Jadi menurut kamu hati yang baik itu yang seperti apa sih, yang membuka aurat? Jikalau hati di-jilbabi keimanan kepada Allah, di-jilbabi ketundukan kepada Allah, pasti akan menyebabkan dia memakai jilbabnya. Kamu tidak pakai jilbab menunjukkan hatimu tidak baik," kata Ustadz Yahya.
(bal)