LANGIT7.ID, Jakarta - Staf Khusus Wapres 2007-2014 sekaligus Dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai masyarakat tidak perlu takut menghadapi
krisis ekonomi. Dia menilai krisis itu harus dilihat sebagai peluang.
“Kalau kita melihat krisis sekarang, kita harus melihat bahwa krisis bukanlah sesuatu yang harus kita takutkan tetapi sesuatu yang harus kita hadapi,” kata Wijayanto dalam diskusi 'Kesempatan Kerja dalam Turbulensi Ekonomi' di Universitas Paramadina Jakarta, Kamis (27/10/2022).
Dia mengibaratkan ekonomi dunia saat ini seperti pesawat besar Airbus A380 bermesin empat dengan penumpang yang sangat banyak. Mesin pertama adalah Amerika Serikat mewakili 25% ekonomi dunia. Amerika mengalami inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir.
Baca Juga: Resesi di Depan Mata, SBY Ungkap Cara Menghadapinya
Mesin kedua Cina mewakili 18% ekonomi. Cina juga mengalami masalah ekonomi karena kekeringan dan produksi pangan turun. Mesin ketiga European Union mewakili 18% ekonomi dunia yang juga sedang tidak baik-baik karena ada peperangan Rusia-Ukraina.
Mesin keempat berada diluar ketiga kelompok ini mewakili 39% ekonomi dunia. Termasuk di dalamnya Indonesia. Meski berfungsi dengan baik, namun bukan berarti tidak menghadapi masalah.
“39% ini tidak mengalami krisis tapi juga tidak baik-baik saja. Sehingga sebagai penumpang jika kita mengharapkan pesawat terbang tinggi dan juga
smooth, sampai tujuan on time itu sedikit berat karena kita harus bersiap dengan adanya guncangan-guncangan,” kata Wijayanto.
Krisis ekonomi saat ini dipengaruhi pandemic Covid-19, perang Rusia-Ukraina, kekeringan di China, hingga krisis lembaga keuangan dunia.
Baca Juga: Teladan Rasulullah SAW Ubah Krisis Jadi Peluang
Jika pertumbuhan ekonomi bagus, maka perusahaan akan berekspansi dan membuka lapangan pekerjaan baru. Tapi, jika pertumbuhan ekonomi rendah, maka perusahaan akan mengerem ekspansi bahkan efisiensi. Itu menyebabkan pekerjaan menjadi lebih menantang dan lebih sulit.
Menurut Wijayanto, masyarakat dunia saat ini akan menghadapi krisis yang sering terjadi. Tidak perlu takut pada risiko. Namun, tetap harus waspada menghadapi risiko.
Solusi Bertahan di Masa KrisisMenurut Wijayanto, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bertahan di era ketidakpastian ekonomi seperti mindset baru,
attitude dan
skill baru, dan model bisnis baru. Jika masih menggunakan caa lama, maka tidak akan bisa
survive.
“Krisis adalah kesempatan bahkan krisis itu seperti anada mau masuk
lift, anda mau berpindah dari lantai satu ke lantai 4, apa yang harus anda lakukan? Kita akan mengantre,” ujarnya.
Baca Juga: Solusi Jitu Rasulullah Atasi Krisis Ekonomi di Madinah
Krisis memberikan kesempatan. Terlebih anak muda yang lebih melek teknologi, kreatif, dan cekatan. Menurut dia, masa muda adalah keuntungan untuk
survive. Hal yang menjadi masalah, seringkali anak muda merasa nyaman.
Anak-anak muda tak hanya membutuhkan
knowledge. Anak muda juga membutuhkan
soft skill, life skill, dan
negotiation skill.
Soft skill memproses teori pengetahuan menjadi kenyataan. Misal teori berenang membuat seseorang bisa berenang.
Life skill membuat seseorang bisa berenang di laut.
“Jadi
improve terus dari
knowledge, lengkapi dengan
soft skill dan
life skill,” ujar Wijayanto.
Baca Juga: Solusi Ekonomi Ala Nabi Yusuf AS dalam Menghadapi Krisis(jqf)