LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri Al Fahmu Institute,
Ustadz Fahmi Salim (UFS) menilai
toleransi tidak hanya berlaku bagi masyarakat nonmuslim saja. Toleransi juga diperlukan di tubuh umat Islam. Meski ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, namun tak bisa dijadikan alasan untuk saling menyalahkan.
“Wahabi, Hijrahfest, Kajian Islam Kantoran sudah kena tilang
online dan
offline. Masya Allah berat banget tegakkan ukhuwah Islamiyah dan merangkul sesama muslim. Sampe pake tahdzir, tilang menilang dan persekusi apalagi pakai tangan kekuasaan,” kata Ustadz Fahmi melalui keterangan tertulis, Sabtu (29/10/2022).
Dia melontarkan pernyataan itu untuk menanggapi rekomendasi ini Lembaga Dakwah PBNU yang meminta pemerintah melarang kelompok wahabi dan
event hijrahfest.
Baca Juga: Wamenag Sebut Ormas Islam Perlu Sinergi dalam Dakwah
Ustadz Fahmi berharap kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf sebagai tokoh agama yang memiliki visi Islam Peradaban dan Globalisme Islam yang tidak eksklusif dan sektarian. Dia berharap Gus Yahya tetap memegang prinsip para sesepuh NU yang memegang teguh ajaran tasamuh atau toleransi.
Melalui prinsip itu, Ustadz Fahmi berharap semua tokoh umat Islam bisa saling menguatkan toleransi dan inklusif bukan hanya kepada golongan di luar Islam. Namun, hal yang paling utama adalah toleransi antarsesama muslim, apapun ormas, paham keagamaan, dan pilihan politiknya.
“Sebab kita semua adalah umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” kata Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah itu.
Baca Juga: Saling Membid’ahkan Bisa Menimbulkan Perpecahan Antarumat
Ustadz Fahmi mengatakan, bisa saja para ulama NU sudah kesal dengan kelompok yang suka membid'ahkan atau memusyrikkan amalan Nahdliyin. Maka itu, dia berharap pula para du’at (para dai) salafiyah (wahabiyah) agar lembut dan hati-hati dengan tidak menempatkan masalah fiqih ke ranah akidah. Ranah akidah yang berkonsekuensi haq-batil, tauhid-syirik, dan sunnah-bid'ah.
“Silakan beramal ibadah sesuai keyakinan dan metode istinbat masing-masing, karena semua akan bertanggung jawab di hadapan Allah. Jangan jadi polisi akidah dan polisi fiqih yang bebas menilang,” ujar Ustadz Fahmi.
Dia lalu meminta semua kalangan untuk intropeksi agar tidak merasa paling benar, paling
sunnah, dan paling
haq, karena
sawadul a'zhom atau karena
ghuroba'.
Baca Juga: 3 Cara Mewujudkan Persatuan Islam dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah
Orang yang membenci Islam bisa memanfaatkan
ikhtilaf di tubuh umat Islam menjadi ajang saling cela, saling hina, dan saling fitnah. Itu akan membuat umat Islam semakin lemah dan ditertawakan karena kebodohan serta kefanatikan umat Islam itu sendiri.
“Seharusnya semua elemen dakwah dan ormas Islam bersyukur atas gelombang hijrah kaum muda di perkotaan dan pedesaan untuk berislam secara kaffah, dan bahu membahu ikut mengayomi mendakwahi anak muda yang hijrah ini dengan manhaj dakwah masing-masing. Bukannya malah melarang kegiatan-kegiatan positif seperti hijrahfest dan hijabfest,” kata Ustadz Fahmi.
(jqf)