LANGIT7.ID, Jakarta - Cobaan berat yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia sejatinya merupakan tanda hidayah. Seperti yang dirasakan Abdurrahman Al-Gonzaga.
Pria berusia 71 tahun ini menceritakan kisahnya mendapatkan hidayah Allah SWT saat dirinya mencoba lebih taat kepada agama terdahulunya. Kisah ini berawal pada 1993 saat Abdurrahman pindah Yogyakarta dari tempat kelahirannya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Niatnya, ia ingin belajar untuk menjadi Pastor.
Abdurrahman mengaku justru mendapatkan kegelisahan luar biasa saat ingin menjadi Pastor karena tanggung jawab yang berat, yaitu tidak boleh menikah.
Baca Juga: Berawal Beda Keyakinan dengan Pasangan, Delicia Kini Mantap Berislam"Tapi masa itu saya diberi kesempatan seluas mungkin untuk memilih keputusan menjadi Pastor. Karena keputusan harus dipertanggungjawabkan dan dipertahankan, saya berpikir selama dua tahun," ucap Abdurrahman melalui kanal YouTube Dondy Tan, dikutip Kamis (3/11/2022).
Selama dua tahun memikirkan keputusan yang akan diambil, pria yang kini menjadi Pembina Mualaf Centre Yogyakarta itu kerap merasakan tempat ibadah agama terdahulunya bukan tempatnya.
"Hingga dua tahun kegelisahan itu saya memutuskan untuk tidak menjadi Pastor. Kemudian saya keluar dari pendidikan, saya melanjutkan indekos di Yogyakarta dan berwirausaha," ujarnya.
Selama di indekos, Abdurrahman merasakan kebaikan sang pemilik yang merupakan orang Islam. Ia kerap diberi makan saat Ramadan padahal Abdurrahman merupakan seorang Nasrani.
Baca Juga: Kisah Stefanus, Masuk Islam karena Baca Buku Tentang Muhammad"Jadi ketertarikan saya dengan Islam berawan saat ngekos di Kampung Leles Condongcatur, Yogyakarta. Saya awalnya belum mengetahui pemilik indekos itu Muslim," kata dia.
"Namun yang sangat membekas adalah kebaikannya ketika Ramadan, anak indekos yang muslim maupun bukan muslim dapat takjil. Ini menjadi pertanyaan bagi saya kenapa dia sangat baik," imbuhnya.
Abdurrahman mengetahui dalam agama terdahulunya kebaikan merupakan ajaran cinta kasih. Namun, masa itu ia penasaran apa yang mendasari umat muslim berbuat baik kepada sesama manusia meski beda agama.
"Saya merasakan kebaikan kecil itu dan bertanya-tanya dalam hati saya, apa yang mendasari perbuatan baik pemilik indekos saya yang Muslim ini. Saya juga termasuk anak indekos yang aktif di kampung, seperti ronda dan kerja bakti," ujar Abdurrahman.
Baca Juga: Kisah Elizabeth, Masuk Islam karena Jatuh Cinta dengan Surat Al Ikhlas"Saya selalu dapat makanan gratis dari warga yang sebagian besar Muslim dan itu bagi saya berharga apalagi anak indekos," imbuhnya.
Hingga tak lama, setelah itu Abdurrahman pindah indekos yang masih satu kampung dengan indekos lamanya. Ia menemui seorang pemilik indekos yang seagama. Saat itu, pemilik indekos kerap cerita kepada Abdurrahman karena selalu bermimpi di dalam masjid.
"Dia sering cerita sering bermimpi di dalam masjid. Lalu saya tawarkan pembimbing spiritual di gereja. Namun dia selalu menunda, hingga akhirnya justru masuk Islam, saya bingung," kata Abdurrahman.
Sejak saat itu, Abdurrahman melihat sang pemilik indekos yang mualaf salat dan berupaya menghafal surat Al-Fatihah.
"Saya bertanya ada lafadz Bismillahirrahmanirrahim, artinya apa. Ternyata artinya 'Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang' itu yang dibaca setiap Salat. Disitu jawabannya saya temukan ternyata orang muslim berbuat baik karena sering membaca ayat itu dalam hati," ujar Abdurrahman.
Abdurrahman mengaku ketertarikannya pada Islam semakin kuat karena ia menemukan kebaikan lainnya. Ketika Ramadan, sebagai umat Nasrani ia bingung mencari rumah makan. Namun kebaikan Allah seketika muncul dihadapannya saat ia mendapati rumah makan yang buka saat Ramadan.
"Ini puncaknya pada 1999. Saya lebih banyak beerinteraksi dengan orang Muslim. Saya menemukan warung buka dan ternyata pemiliknya Muslim. Saya tanya kok ibu buka warung siang-siang apakah bukan Muslim? dia menjawab dia Muslim," katanya.
Baca Juga: Richard Tan, Mualaf Sukses Buka Restoran Dimsum"Saya tanya apakah kalau saya makan dia terganggu? Dia menjawab, 'Mas saya muslim dan niat berpuasa. sekalipun melayani mas makan, saya sudah niat tidak ada yang berubah' masya Allah," kata Abdurrahman.
Abdurrahman beranggapan pemilik warung tersebut merupakan Muslim yang taat. "Pemilik warung itu menawarkan saya kalau mau makan selama Ramadan datang ke warungnya. Dari situ saya bertanya-tanya, baru bertemu orang ini dia sangat baik," ujarnya.
Ketertarikannya kepada Islam makin kuat hingga Abdurrahman mengeluhkan perasaan gelisahnya kepada teman Muslimnya yang juga seorang Mualaf. Temannya tersebut mengajak Abdurrahman ke seorang ulama di Yogyakarta.
Namun, orang tua angkat Abdurrahman sempat mengimbau untuk berhati-hati karena ia harus taat pada Tuhan di agama terdahulunya.
"Tapi saya kekeh ingin di bawa ke seorang ulama, bernama Sudiono, yang kini sudah almarhum. Saya bercerita apa yang saya rasakan tentang Islam. Beliau bilang saya dapat hidayah untuk masuk islam. Dia perintahkan saya merenungkan terlebih dahulu," tuturnya.
Namun hanya beberapa hari, ada hasrat kuat untuk salat di dalam diri Abdurrahman. Ia kemudian menghadap Sudiono untuk memantapkan diri masuk Islam.
"Itu 1 April 2000 saya bersyahadat sebelum salat maghrib. Setelah syahadat ada beban yang terlepas dan saya belajar salat maghrib," tutur Abdurrahman.
Baca Juga:Mantan Penginjil di Sleman Dapat Hidayah Usai Nonton Sinetron(zhd)