LANGIT7.ID, Jakarta - Perbedaan merupakan sesuatu yang dikehendaki Allah SWT dan selalu ada dalam agama. Adapun yang perlu diperhatikan manusia adalah mengelola perbedaan tersebut agar tidak terjadi ketegangan dan konflik.
Guna menciptakan hidup yang penuh kedamaian, berikut lima cara menyikapi perbedaan menurut Al Quran, mengutip dari UIN Antasari, Rabu (30/11/2022).
Baca Juga: Kemenag Ungkap 3 Tantangan Menghadapi Keberagaman Cara Pandang Berbangsa1. Menyadari Perbedaan adalah Kehendak Allah SWTPerbedaan sebenarnya adalah kehendak Allah SWT. Dalam Al Quran surat al-Mā`idah: 48, Allah SWT. berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu."
Mustahil suatu pemahaman seragam tentang agama. Selalu aja saja perbedaan. Ayat di atas dengan jelas menegaskan Allah SWT menjadikan umat ini satu identitas (satu agama, satu pemahaman).
Allah SWT ingin menguji umatnya dengan perbedaan tersebut, siapakah yang mampu menunjukkan kebajikan-kebajikan (al-khairāt).
2. Jangan Selalu Merasa BenarJangan sesekali merasa pendapat diri sendiri paling benar saat berbicara dengan orang lain. Bisa saja pemahaman orang lain memiliki kemungkinan benar.
Menyadari adanya kemungkinan 'benar' atau 'salah' adalah upaya kita memberikan ruang agar tak selalu merasa benar. Bisa jadi kita memiliki kekeliruan dalam memahami ayat-ayat Al Quran, atau cara yang digunakan kurang atau tidak tepat.
Sikap seperti ini pernah dicontohkan oleh Imām asy-Syāfi’ī yang mengatakan, "Ijtihadku adalah benar, tapi mengandung kemungkinan keliru. Sedangkan ijtihad orang lain adalah keliru, tapi mengandung kemungkinan benar."
Baca Juga: Pererat Silaturahmi, Cara Merawat Kemajemukan Indonesia di Era Globalisasi3. Mengemukakan Pendapat Harus Dilandasi Niat Mencari KebenaranAllah SWT adalah tujuan akhir dari segala usaha pencarian ilmu dan berpendapat. Konsistensi dengan tujuan dapat menyisihkan kepentingan-kepentingan sesaat, seperti mengemukakan pendapat hanya untuk mencari popularitas.
Perkataan asy-Syâfi’î sebagaimana dikutip oleh Ibn Khallikân dalam Wafayât al-A’yân wa Anbâ` Abnâ` az-Zamân menegaskan, "Perhatikanlah apa yang mengandung kebaikan bagi dirimu yang berhubungan dengan urusan dunia dan agamamu. Lalu, bersikaplah konsisten!"
4. Hilangkan Prasangka NegatifHilangkan prasangka (
prejudice) atau anggapan-anggapan negatif terhadap kelompok lain. Sebab, benih konflik adalah prasangka tersebut.
Dalam Al Quran Allah SWT melarang prasangka negatif, sebagaimana disebutkan dalan firmannya, susar Al Hujarat ayat 11.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Baca Juga:
Haedar Nashir: Indonesia Milik Semua, Tak Boleh Condong ke Mazhab Tertentu
Zulhas: Perbedaan Pendapat Akibat Pilihan Politik Perkara Biasa
(gar)