LANGIT7.ID, Jakarta - Carrie Bracken nyaris mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol di kepala. Ia nekat bunuh diri karena merasa agama yang dianutnya saat itu tidak bisa memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapinya.
Perempuan 27 tahun asal Bear Delaware Amerika Serikat itu pun sudah putus asa dan ingin dengan cara bunuh diri. Pistol pun sudah diarahkan ke kepalanya. Namun sebelum mengakhiri hidupnya, ia ingin sempat mengatakan jika Tuhan itu ada, dia ingin Tuhan menunjukkan dirinya dengan memberi tanda.
“Aku hampir membunuh diriku, sebelum masuk Islam. Aku taruh pistol di kepalaku, dan aku katakan, “Tuhan, jika engkau ada, tolong aku beri tanda,” kata Carrie di kanal YouTube petunjuk hidayah, dikutip Minggu (15/1/2023).
Baca juga: Meneladani Kemuliaan Adab Rasulullah dan Para Sahabat “Dan pada saat itu aku punya handphone tak berhenti berbunyi dan bergetar. Dan terus-menerus membuat bising yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang mengambil alih handphoneku,” jelasnya sembari mengusap air mata.
Terdengar seperti suara ledakan, atau seperti suara petir yang menyambar sesuatu. Dan ketika itu Carrie mengambil handphone dan melihat sebuah pesan dan dia tidak mengerti pesan apa yang dikatakan. Namun dirinya tau, bahwa itu tulisan Arab.
“Karena aku pernah melihat tulisan Arab sebelumnya. Saat temanku membacanya, mendengarnya, ya apapun itu aku melihatnya. Aku melihatnya, dan berkata,”
Ini adalah tanda dari Tuhan,” ucapnya.
Seketika itu Carrie melempar pistol itu ke lantai, dan dia mengatakan. “Aku akan masuk Islam. Itulah hari di mana aku katakan bahwa Tuhan benar-benar mengubah hidupku, Alhamdulillah. Dia (Tuhan) mengubah hidupku,” tuturnya.
“Islam bagiku adalah kebenaran, karena saya merasa Tuhan berbicara pada saya waktu itu. Allah berbicara kepadaku dan dia berbicara dengan cinta dan itu adalah moment yang belum pernah aku rasakan,” ceritanya.
Baca juga: Felix Siauw Jelaskan Definisi Muslim ke Daniel Mananta: Menjaga Lisan Carrie resmi masuk Islam pada Islam pada 23 Januari 2013 . Setelah masuk Islam, banyak hal baik yang terjadi, dia bertemu orang-orang baru dan itu mengubah hidupnya. Dia merasa sangat luar biasa, semua-baik-baik saja.
Sebagai informasi, Carrie dibesarkan dalam keluarga kristen, keluarga methodist. Rumahnya bersebelahan, dengan gereja methodist. Dia pemeluk Kristen yang taat, setiap minggunya berjalan kaki ke gereja. Ajaran methodist, sangat kuat di rumah.
“Kami selalu berdoa sebelum makan dan sebelum tidur, kami akan mengemudi atau ke gereja selama hari libur, atau hanya pada hari minggu saja. Saya juga ikut paduan suara, bernyanyi, intinya kami selalu pergi ke gereja setiap minggu. dan jika kami melewatkan hari minggu karena kami sakit,” ujarnya.
Sebelum jadi mualaf, Carrie sangat benci terhadap muslim. Ia menganggap bahwa muslim tidak memperlakukan wanita dengan baik.
Meski menjadi Kristen taat, dia juga sering keluar bersama teman-temannya yang modis dan gaul dengan minum-minum, pesta, bersenang-senang danakan kami akan mengolik-olok orang yang berbeda pakaian dengannya.
Baca juga: Fadhlina Sidek, Muslimah Pertama Jadi Menteri Pendidikan Malaysia “Tetapi saat kami meninggalkan kebiasaan itu, dengan orang-orang itu, kami menyadari, bahwa mereka bukan siapa-siapa saya. Dan itu membuatku lebih kuat, belajar memahami aku, siapa yang dulu, dan Islam membuatku lebih kuat saat ini,” bebernya.
Carrie mengaku mempunyai beberapa teman muslim, dan sering tanya hal-hal yang aku dengar di berita. Soal hal yag salah pada wanita, karena dia berfikir Islam sangat memusuhi wanita. Mereka sangat membenci istri mereka, putri mereka dan belajar banyak dari apa yang ditanyakan itu.
“Saat aku hilang kepercayaan sama agamaku sendiri dan aku butuh banyak jawaban. Oh Tuhan, aku ingat hari itu, hari ketika aku menjadi mualaf. Itu adalah bagiku moment, kemenanga besar dalam hidupku dimana aku merasa lemah, tapi jujur aku sangat kuat,” pungkasnya.
(sof)