LANGIT7.ID, Jakarta -
LANGIT7.ID, Jakarta- Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini, memprediksi Pemilu 2024 akan diwarnai kegaduhan para elite politik. Namun, diskursus yang tercipta minus politik gagasan.
Titi menekankan, bukan masyarakat, namun elite yang membuat jalan Pemilu menjadi terjal. Misalnya, wacana penundaan pemilu. Sampai penghujung 2022 masih terdapat wacana untuk menimbang kembali pemilu 2024.
Persiapan pemilu tersendat di tahun 2022. Selain itu, pada tahun ini muncul indikasi kecurangan verifikasi faktual partai politik secara struktural. Masyarakat sipil dapat berperan dalam mengantisipasi ini dengan menunjukan resiliensinya.
Baca Juga: PKS Dukung Anies Baswedan, Siap Deklarasi saat Rakernas
“Contohnya, transformasi pemantauan pemilu, adanya adaptasi kelenturan pada advokasi yudisial, dan kemampuan mendapatkan kepercayaan informan
whistle blower,” kata Titi dalam webinar Ritual Oligarki Menuju 2024, dikutip Selasa (31/1/2023).
Pada 2023 nanti, Titi memprediksi situasi serupa akan tetap terjadi. Elite akan tetap gaduh dan tetap minus politik gagasan diskursus, dan sangat ‘elitis’. Mereka juga cenderung menginginkan masa kampanye yang pendek.
“Namun, di saat yang sama, ingin bersosialisasi di ‘masa tunggu’, guna menghindari akuntabilitas di masa kampanye,” tutur Titi.
Baca Juga: Justin Trudeau: Islamofobia Tidak Punya Tempat di Kanada
Serangkaian peristiwa 2022 seperti upaya mewujudkan demokrasi prosedural sekalipun bukan sesuatu yang mudah termasuk juga bagian dari substansi. Praktik pemilu selama ini reguler dilakukan bahkan mendapatkan tantangan yang justru datang dari para elite politik hasil dari proses pemilu itu sendiri.
“Elite politik sangat cakap dan fasih saat mengumumkan jargon-jargon mereka, akan tetapi dalam pelaksanaannya cenderung inkonsisten, alias cakap tak serupa bikin,” kata Titi.
Oleh karena itu, masyarakat sipil perlu bersikap resilien dalam menghadapi situasi di pemilu 2024. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah merebut Pemilu 2024 melalui penetrasi pada pemilih muda.
Baca Juga: 59 Orang Tewas dalam Serangan Bom Bunuh Diri di Masjid Pakistan
“(Pemilih muda) jumlahnya lebih dari 50% dari 200 juta lebih pemilih Indonesia pada 2024 (dengan 15% di antaranya adalah pemilih berusia 17-23 tahun).” pungkas Titi.
(jqf)