LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, mengungmapkan, banyak partai dan politisi yang berebut ingin menjadi anggota
Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu tidak terlepas dari daya tarik NU dengan jumlah massa yang sangat banyak.
Dalam survei SMRC pada Desember 2022, warga yang mengaku sebagai anggota aktif NU sebanyak 8,6%. Orang yang mengaku sebagai anggota tapi tidak aktif sebesar 11,7%. Total warga yang mengaku sebagai anggota NU sebesar 20,3%.
Saiful menegaskan, daya tarik NU bagi partai politik di Indonesia adalah karena organisasi ini memang memiliki massa yang besar. Orang yang mengaku sebagai anggota formal NU sebesar 20,3% atau sekitar 40-an juta warga.
Baca Juga: Persamaan NU dengan Berbagai Ormas Islam di IndonesiaAngka tersebut di luar warga yang secara kultural mengikuti praktik ritual keagamaan NU. Jika kelompok kultural itu digabungkan, maka massa NU akan menjadi lebih besar.
“Kalau dilihat dari data ini, memang NU memiliki nilai elektoral karena dari sisi jumlah sangat besar,” kata Saiful melalui keterangan pers di Jakarta, Jumat (17/2/2023).
Penulis buku Muslim Demokrat itu mengungkapkan, bicara tentang hubungan NU dan organisasi lain dengan pemilihan umum, tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan mengenai seberapa besar massa dari organisasi tersebut. NU juga dikenal sebagai organisasi sosial keagamaan, bukan organisasi lain seperti buruh, tani, atau nelayan.
Baca Juga: Uji Kekuatan Elektoral NU, 3 Tokoh ini Paling Potensial di Pilpres 2024“Organisasi berbasis keagamaan lebih kuat dari bentuk-bentuk organisasi lain yang lintas agama di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dihitung seberapa besar kekuatan masing-masing organisasi tersebut, termasuk NU,” kata Saiful.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu menjelaskan bahwa dalam Pemilu 1955, NU menjadi pemenang nomor tiga. Kala itu, Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) lebih kuat dari NU.
Hanya saja, Masyumi sangat heterogen atau terdiri dari banyak kelompok Islam. Sementara NU homogen dan khas. NU adalah subkultur Islam di Indonesia yang sangat solid.
Baca Juga: Kiai Sepuh Berkumpul di Tebuireng, Sampaikan Harapan untuk Abad ke-2 NU“Sementara, Masyumi tidak memiliki basis ormas. Berbeda dengan Masyumi, NU adalah partai dan ormas sekaligus. Antara partai NU dan Ormas NU identik,” ungkap Saiful.
Lalu kenapa organisasi keagamaan lebih kuat dibanding organisasi yang memiliki sifat yang umum?
Saiful menjelaskan, dilihat dari kelas menengah ke bawah yang menjadi basis dari organisasi buruh, mestinya jumlahnya lebih banyak. Namun kenyataannya, partai yang menyuarakan aspirasi buruh dan petani, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI), justru tidak mendapatkan suara besar pada Pemilu 1955. Suaranya bahkan di bawah NU.
Baca Juga: Perbedaan Muhammadiyah dan NU untuk Saling Melengkapi“Sejarah politik Indonesia, menurut Saiful, lebih berhubungan dengan politik aliran, bukan organisasi yang lebih sekuler atau kelas sosial,” ungkap Saiful.
Peraih doktor ilmu politik dari Ohio State University ini menyatakan, PKI mencoba membawa sentimen kelas, tapi kalah oleh sentimen aliran. Partai yang terkuat saat itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). PNI tidak terlalu membawa sentimen kelas, yang dominan pada partai ini adalah aliran.
Menurut Saiful, lebih kuatnya politik aliran yang membuat mengapa organisasi seperti NU lebih kuat dibanding organisasi lain seperti kelompok buruh. Pada zaman Orde Baru, NU dihilangkan peran politiknya.
Baca Juga: Lagu Ulama Bergerak Kado Spesial Slank 1 Abad NU, Ini Liriknya“Kekuatan politiknya digembosi oleh Orde Baru karena tahu NU itu besar. Kalau politiknya terbuka, berbahaya untuk rezim karena potensial mengancam,” tutur Saiful.
Saiful mengenang bagaimana Gus Dur sadar dengan potensi NU dan kemudian mengerahkan massa sejuta umat. Itu adalah bentuk
show of force, karena Gus Dur merasa langkah-langkahnya dihalangi. Namun, kemungkinan Gus Dur juga kurang menyadari bahwa politik waktu itu adalah otoritarian, di mana massa memang tidak terlalu penting untuk ditunjukkan.
Jika dilihat dari sisi jumlah massa, NU sangat signifikan. Satu-satunya partai yang bisa mendapatkan suara sebesar massa NU (sekitar 20 persen) adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Baca Juga: LP3ES: Songsong Abad Kedua NU sebagai Gerakan Pemikiran dan Ekonomi“Dilihat dari sisi jumlah, NU sangat penting secara elektoral. Ini yang menjelaskan mengapa banyak partai dan tokoh-tokoh politik Indonesia menghitung NU. Semuanya bahkan ingin merasa dekat dan sebagai orang NU,” tutur Saiful
(jqf)