LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri
Sirah Community Indonesia (SCI), Ustadz Asep Sobari, menilai sikap negarawan Umar bin Khattab saat memilih pejabat daerah patut menjadi contoh para pemimpin saat ini.
Setiap kali mengangkat pejabat daerah seperti gubernur di suatu daerah, Umar langsung mengirim surat khusus kepada surat tersebut. Isi surat itu berisi tentang seruan kepada masyarakat dan harus dibacakan oleh sang pejabat.
“Salah satu kebiasaan Umar saat menjabat sebagai khalifah adalah mengirimkan surat kepada pejabat daerah. Surat itu kemudian dibacakan oleh pejabat daerah yang diangkat untuk dibacakan kepada rakyat setempat,” kata Ustadz Asep Sobari dalam kajiah sirah secara daring, Sabtu (25/2/2023).
Baca Juga: Belajar dari Halimah As-Sa'diyah, Keberkahan Rawat Anak YatimUstadz Asep Sobari mengutip salah satu surat Umar bin Khattab kepada pejabat yang diangkat di suatu daerah. Surat tersebut diabadikan Abu Yusuf dalam Kitab Al-Kharaj. Surat itu berbunyi:
“Wahai segenap manusia, sesungguhnya aku mengangkat para pegawaiku sebagai sebenar-benarnya pemerintah bagi kalian. Aku tidak mengangkat mereka untuk menyentuh kulit (menyakiti fisik), menumpahkan darah, ataupun merampas harta kalian. Melainkan, agar mereka mengajari kalian urusah agama dan sunah.
Siapa yang merasa diperlakukan tidak seperti itu, maka hendaklah melaporkannya kepadaku. Siapa yang dizalimi oleh pejabat, hendaklah bangkit (melaporkan). Aku akan pastikan kalian dapat membalasnya karena melihat sendiri Rasulullah SAW dibalas atas -yang dirasa sebagai- kesalahannya.” (Abu Yusuf, kitab al-Kharaj)
Baca Juga: Kisah Halimah As-Sa'diyah, Rasakan Berkah karena Susui Nabi SAWUstadz Asep menjelaskan, poin utama dalam surat tersebut tugas utama pejabat baru adalah mengajari masyarakat tentang agama. Dengan memahami agama secara benar, masyarakat akan memahami hak dan kewajiban mereka. Itu memberikan dampak besar ke negara.
“Sebenarnya, dengan mengajari masyarakat menggunakan ajaran yang benar, efeknya kepada negara akan sangat bagus. akan paham tentang bagaimana seharusnya menjadi rakyat yang baik, sebagaimana mereka juga faham bagaimana membuat kebijakan dan melaksanakan pemerintahan, sehingga kemaslahatan bersama itu akan tercipta,” ujar Ustadz Asep.
Maka itu, dalam negara ala Umar tidak boleh seorang pemimpin memelihara kebodohan masyarakat. Artinya, lembaga pendidikan harus menjadi fokus utama agar masyarakat cerdas. Masyarakat yang cerdas akan melahirkan SDM berkualitas.
Baca Juga: Mush'ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pilihan Rasulullah SAW“Jadi, jangan kemudian dipelihara kebodohan rakyat itu. tidak mengerti hak-haknya, hanya diberi BLT setiap kali ada kebijakan-kebijakan yang menyengsarkan. Sebentar juga hilang. Maka, Umar akan mengadili pejabat daerah yang tidak melaksanakan amanah dari pusat. Kalau tidak diberitahukan hak-hak rakyat,” ungkap Ustadz Asep.
Ustadz Asep mencontohkan saat Umar bin Khattab mencopot Saad bin Waqqash. Siapa yang tak kenal Saad Waqqas? Dia adalah panglima perang penakluk Persia dan yang membangun kota Kufah.
“Saad bin Waqash, penakluk Persia dan membangun Kota Kufah, dicopot oleh Umar, karena ada beberapa orang yang tidak suka dan dilaporkan kepada Umar. Umar memanggil, diintrogasi,” ujar Ustadz Asep.
Baca Juga: Hikmah dari Sahabat Rasulullah yang Buta, Pantang Salat di RumahSetelah introgasi, Umar mengatakan, “Aku sepenuhnya yakin denganmu, tapi kenapa aku panggil dan aku copot, karena ada orang-orang yang tidak menyukaimu, dan itu menyebabkan kebijakan-kebijakanmu tidak berjalan dengan baik. tidak efektif di beberapa lapisan masyarakat.”
Pencopotan Saad bin Waqqash bukti ketegasan Umar dalam menjaga integritas para pejabat. Pejabat harus benar-benar amanah dan bertanggungjawab. Tidak boleh asal-asalan memerintah, sehingga tidak mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Dalam salah satu suratnya, Umar mengatakan, “Demi Allah, jika para pejabat berbuat baik, maka bantulah, dukunglah. tetapi, jika mereka berbuat buruk, maka aku tidak akan segan menghukum mereka.”
Baca Juga: Para Pemuda Istimewa, Sahabat Rasulullah yang Beriman Sejak MudaUmar menerapkan mekanisme evaluasi. Ada evaluasi tahunan dan juga yang bersifat harian. Misalnya, Umar memiliki banyak intel yang disebar di seluruh daerah umat Islam, kemudian juga menyerap informasi dari tokoh masyarakat setempat hingga para pedagang yang hilir mudik. Umar akan bertanya kepada para intel dan informan itu tentang kebijakan seorang pejabat di suatu daerah.
“Ketika Umar mendengar rumah atau kantor Saad bin Waqqash ada pintu, padahal Umar sudah buat kebijakan tidak boleh ada pintu di bagian depan/ Pintu ini dibuat supaya rakyat tidak segan masuk untuk mengadukan masalahnya,” ungkap Ustadz Asep.
(jqf)