LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan terkuak fakta sejumlah
pejabat di instansi pemerintahan menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Padahal, jabatan itu pada hakikatnya adalah tanggung jawab besar pada urusan-urusan besar, seperti kemampuan, kapabilitas dan integritas pada amanat yang ada. Dalam setiap jabatan harus dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat.
Apabila yang memegang jabatan itu tidak punya kualifikasi, maka itu memprihatinkan dosanya untuk dirinya di dunia dan akhirat. Bisa jadi orangnya baik, tetapi amanat yang tak tertunaikan bisa membuatnya masuk neraka.
Nabi Muhammad SAW sangat selektif memberi amanat kepada para pejabat pejabat yang ditugaskan oleh nabi pada setiap urusan, yang terbukti mampu dari para sahabat itu, langsung diberikan amanat, dan yang tidak mampu pasti tidak diberi amanat.
Baca Juga: Beli Barang Mewah Salah Satu Modus Pencucian Uang PejabatMengutip laman resmi MUI, dalam Sirah Nabawiyah diceritakan ada seorang sahabat pernah meminta jabatan kepada Nabi Saw, tetapi ditolak karena ketidak layakannya itu,
Umumnya, orang yang meminta jabatan itu merupakan orang tidak mampu, dan pada umumnya yang terkategori orang mampu pada urusan tertentu takut meminta jabatan tertentu karena ia tahu liku-liku dan tanggung jawabnya pada urusan itu kemudian Dia merasa berat memikulnya. Tetapi bila ia berusaha, maka termasuk mampu karena ia tahu liku-liku susahnya dan otomatis paham solusi yang mungkin ditempuh untuk itu.
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ
Baca Juga: Setelah Pejabat Publik Lapor LHKPN, Ini Langkah yang Dilakukan KPKDari [Abdurrahman bin Samurah] mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan dengan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong, dan jika kamu diberinya karena meminta, maka kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu bersumpah, lantas kamu lihat ada suatu yang lebih baik, maka bayarlah kafarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik.”[Bukhari].
Abu Dzar Ra seorang sahabat yang meminta jabatan kepada Nabi Saw, lalu nabi menolaknya:
يَا رسول الله، ألا تَسْتَعْمِلُني؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبي، ثُمَّ قَالَ: ((يَا أَبَا ذَرٍّ، إنَّكَ ضَعِيفٌ، وإنّها أمانةٌ، وَإنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلا مَنْ أخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا)). رواه مسلم.
Dari [Abu Dzar] dia berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)?” Abu Dzar berkata, “Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar.” [Muslim].
Baca Juga: Anwar Abbas Minta Penegak Hukum Proaktif Selidiki Kejanggalan Harta PejabatImam Qurthubi memandang penolakan nabi terjadi karena Abu Dzar tidak cocok memegang amanah sebagai pejabat, namun dia cocok pekerjaan lainnya. Banyak kalangan yang mengejar jabatan dan kedudukan mereka minta dipilih dan diangkat pada jabatan tertentu, tetapi mereka tidak sadari itu kehancuran baginya.
Rasulullah SAW bersabda:
قَالَ: ((إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ)). رواه البخاري
Artinya: kalian umumnya dengan antusias pada kepemimpinan padahal itu bisa menjadi penyesalan di hari kiamat (HR Bukhari)
(jqf)