LANGIT7.ID-, Jakarta- - Direktur Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta, Prof. Dr. Darwish Hude, menegaskan, memaksa
manusia agar beriman merupakan hal yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Hal ini secara spesifik dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 256.
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat." (QS Al-Baqarah: 256)
Prof Darwis menjelaskan, dakwah memang diperlukan, tapi harus dengan cara-cara yang baik, dengan hikmah, dengan nasihat yang menyentuh kalbu. Kalaupun harus berdiskusi hingga berdebat, maka mesti dengan cara-cara yang ahsan.
"Menelusuri ayat-ayat Al-Qur'an kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sangat moderat, tidak berlebih-lebihan, dan juga tidak berkekuarangan. Ia berada pada posisi tawazun, i'tidal, dan'adalah (berkesiimbangan dan berkeadilan)," kata Prof Darwish saat menyampaikan ceramah di Masjid Istiqlal, Jakarta, dikutip Kamis (18/5/2023).
Baca juga:
3 Makna Manusia Diciptakan Sebagai Khalifah di Muka BumiBeberapa contoh konkret yang menjadi indikator dapat sebagai berikut:
1. Berprikehidupan di Dunia dan Akhirat Seimbang
Menurut Prof Darwish, bukti Islam mengajarkan moderat karena mengajarkan berkehidupan didunia dan akhirat yang seimbang. Tidak boleh ada yang terbaikan. Kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat bisa diraih.
"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagimu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al-Qashash: 77)
2. Bersikap Moderat
Islam mengajarkan penganutnya untuk bersikap moderat. Artinya, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula bermalas-malasan. Prof Darwish mencontohkan soal bersedekah. Dalam berderma tidak boleh terlalu royal dan tidak pula terlalu kikir.
"Dalam soal bersedekah pun, yang nyata-nyata sebuah kebaikan universal, Al-Qur'an mengajarkan untuk senantiasa bersikap moderat, tidak terlalu royal tetapi tidak juga terlampau kikir," ujar Prof Darwish.
Mengambil posisi moderat di antara kedunya merupakan pilihan paling baik.
"Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya." (QS Al-Furqan: 67)
3. Hubungan Vertikal dan Horizontal Seimbang
Hablum minallah (hubungan dengan Allah SWT) terjaga dengan baik. Begitu pun hablum minannas (hubungan antarmanusia) yang terlaksana dengan indah. Hanya mereka yang menjaga kedua hubungan itu dengan seimbang yang terbatas dari predikat kehinaan.
"
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas." (QS Ali-Imran: 112)
4. Berdakwah dengan Bijak, Persuasif, dan Ahsan
Islam mengajarkan untuk berdakwah dengan bijak, persuasif, dengan cara-cara terbaik (al-ahsan), bukan dengan cara-cara yang kasar dan brutal. Menurut Prof Darwish, Rasulullah SAW sangat moderat dalam menjalankan dakwah.
"Sehingga dalam waktu yang relatif singkat (Rasulullah SAW) memiliki banyak follower dari berbagai kalangan," ujar Prof Darwish.
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS An-Nahl: 125)
Berdakwah dengan cara persuasif, lembut, dan elegan merupakan karakteristik dakwah Al-Qur'an. Sekelas Fir'aun saja yang nyata-nyata telah melampaui batas dan menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan "Ana rabbukumul a'la".
"Oleh Allah SWT masih meminta Musa dan Harun AS menyadarkannya dengan kalimat-kalimat lembut," tutur Prof Darwish.
"Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS Thaha: 43-44)
Baca juga:
BWI Minta Pemerintah Terbitkan Payung Hukum Pengelolaan Wakaf BLU5. Meyakini dengan Teguh Kebenaran Agama yang Dianut
Umat muslim meyakini dengan teguh kebenaran agama Islam. Tetapi, mereka tidak pernah melecehkan atau memaki simbol-simbol yang disakralkan orang lain yang berbeda keyakinan.
"Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-An'am: 108)
Prof Darwish mengatakan, istilah ummatan wasathan yang disebutkan di dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 adalah sangat tepat. Berbagai pemaknaan terhadap istiah ini oleh para musaffir.
Namun secara komprehensif dapat dijelaskan ummatan wasathan adalah umat yang bersikap, berpikiran, dan berperilaku moderat, adil, seimbang, dan proporsional, antara kepentingan material dan spiritual, akal dan wahyu, ketuhanan dan kemanusiaan, individu dan kelompok, masa lalu dan masa depan, realisme dan idealisme, dan orientasi duniawi dan ukhrawi.
"Terlalu cenderung ke kiri akan melahirkan ekstremitas, dan terlalu miring ke kanan akan melahirkan liberalitas, yang keduanya tak dikehendaki oleh istilah ummatan wasathan," ujar Prof Darwish.
(ori)