LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Peradaban Islam pernah mencapai kemajuan pesat dalam pengembangan ilmu pengetahuan selama delapan abad (dari abad ke-7 hingga ke-15). Selama periode ini penekanan kuat diberikan kepada pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Menurut Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, hal tersebut yang menjadikan peradaban Islam menjadi pioner dalam hukum, ilmu sosial, sains dan teknologi. Faktor pertama, karakter dasar ajaran Islam yang menjadikan ilmu sebagai nilai dasar yang tinggi dalam hidup manusia.
“Pengagungan terhadap ilmu itu memobilisasi para ulama untuk melakukan riset dan pengembangan wacana keilmuan,” kata Syamsul dalam seminar Integrasi Keilmuan dalam Hisab, Rukyat, dan Kalender Global Unikatif di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dikutip Senin (5/6/2023).
Kedua, minat para penguasa, khususnya khalifah, terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, wacana ilmu pengetahuan dijadikan kebijakan yang didukung kuat secara politik. Para penguasa mendorong para ilmuwan berkarya dalam berbagai cabang ilmu sesuai kecenderungan masing-masing.
Baca juga:
Jelang Pemilihan Pemimpin, Begini Etika Berpolitik Pada Pemilu 2024Perhatian para penguasa muslim pada abad pertengahan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan ini dimotivasi oleh beberapa hal. Di antaranya, semangat ajaran agama yang mendorong kuat kecintaan dan upaya pencarian ilmu pengetahuan (pursuit of knowledge).
Kemudian, dorongan untuk mendapatkan kebanggaan dan karena berkembangnya ilmu merupakan salah satu sumber legitimasi kekuasaan.
Faktor ketiga, adanya sikap terbuka kreatif yang berkembang di kalangan umat dan para ilmuwan serta sarjana muslim era itu terhadap peradaban lain. Hal itu lahir dari suatu pandangan dunia yang open minded.
Faktor keempat, pandangan dunia optimistik yang melihat alam dan kehidupan dunia sebagai suatu anugerah Allah SWT yang baik. Hal itu harus dimanfaatkan dan dikelola sedemikian rupa sesuai dengan koridor teologis. Koridor itu pada asasnya segala sesuatu itu mubah, kecuali yang dinyatakan dilarang secara tegas.
Dunia dilihat tidak sebagai suatu yang tercela dan terjauhkan dari rida Allah. Sikap seperti ini telah membebaskan umat dari suatu bentuk ketertutupan diri dan konservatisme yang melumpuhkan dinamika.
Baca juga:
Ulang Tahun, Kiai Cholil Dapat Ucapan Khusus dari Wapres Maruf Amin“Pandangan dunia yang terbuka dan optimistik ini telah membuat umat Islam terbuka terhadap peradaban mana pun dan membuat mereka kreatif dan pro aktif dalam mengelola bahan-bahan budaya dari peradaban lain, sehingga dengan semangat itu ilmu pengetahuan menjadi berkembang pesat,” tutur Syamsul.
Faktor kelima, dukungan ekonomi altruistik yang memadai terutama dari sektor perwakafan. Di zaman tengah Islam, wakaf memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan dan riset ilmiah. Perguruan-perguruan merupakan tempat belajar ilmu pengetahuan yang gratis karena dukungan dana wakaf.
“Dengan etos keilmuan umat yang kuat dan dorongan seperti ini peradaban Islam mencapai kejayaannya dalam pengembangan ilmu di abad tengah. Tetapi kemudian peradaban ini mengalami kemerosotan dan bersamaan dengan kemerosotan peradaban Islam itu terjadi kemunduran kegiatan keilmuan yang berujung pada ketertinggalan jauh kaum Muslimin dalam bidang iptek seperti sekarang ini,” tutur Syamsul.

(ori)