LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), menjelaskan, perkara jimat. Menurut dia, sebuah keyakinan yang salah jika meyakini suatu jimat memiliki kekuatan sendiri, terpisah dari kuasa Allah SWT.
"Ini merupakan bentuk syirik yang jelas dan harus dihindari dalam praktek agama. Namun, dia menyatakan bahwa tidak semua jimat bisa disamakan dengan syirik," kata Buya Yahya dalam tausiahnya di Al Bahjah, dikutip Sabtu (12/8/2023).
Dia lalu mengemukakan bahwa ada jenis-jenis jimat yang diperbolehkan dalam Islam, terutama dalam rangka melindungi diri dan mendapatkan berkah. Contohnya, jimat yang mengandung ayat-ayat Al-Qur'an atau bacaan dzikir tertentu.
"Namun, yang perlu ditekankan adalah bahwa kekuatan sejati tetap berasal dari Allah, bukan dari jimat itu sendiri," tutur Buya Yahya.
Buya Yahya menjelaskan, penggunaan jimat ini lebih ditekankan pada anak-anak kecil yang belum mampu membaca Al-Qur'an atau dzikir. Jimat dengan ayat-ayat Al-Qur'an atau dzikir tertentu ini dapat ditempelkan di dekat tempat tidur anak-anak sebagai pengingat akan perlindungan dan keberkahan Allah.
Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan kemampuan membaca, fokus penggunaan jimat ini dapat berkurang. Anak-anak diarahkan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan dzikir secara langsung.
"Jadi memang ada bacaan bacaan yang mengandung fadilah fadilah tertentu atau sebagai penjagaan, namun ya kalau kita sudah dewasa ya kita baca setiap hari, bukan ditempel atau dikalungkan dan sebagainya," ujar Buya Yahya.
Maka itu, jimat dalam Islam tidak selalu identik dengan syirik. Ada jenis-jenis jimat yang diperbolehkan, terutama untuk anak-anak kecil yang belum mampu membaca Al-Qur'an atau dzikir. Namun harus diingat, hanya untuk anak anak yang memang belum mampu membaca Al-Qur'an.
Namun jika sudah mampu membaca, maka tidak perlu lagi ditempel,dikalungkan dan sebagainya, cukup dibaca saja setiap hari sebagai perlindungan. Akan tetapi, tindakan itu harus diikuti dengan tauhid, bahwa hanya Allah SWT sumber kekuatan.
"Perlu juga diingat dan ditanamkan mengenai pentingnya memahami bahwa Allah-lah sumber segala kekuatan dan perlindungan, dan menjaga niat tulus serta keyakinan kepada-Nya adalah prinsip utama dalam menghadapi kehidupan sehari-hari," tutur Buya Yahya.
(ori)