LANGIT7.ID, Jakarta - Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Selaku Pencipta, Allah telah menyediakan bahan makanan untuk manusia begitu melimpah, baik berupa tumbuh-tumbuhan (nabati) atau hewan (hewani), dari darat maupun laut.
Saking banyaknya, entah berapa ribu jenis makanan yang telah Allah sediakan untuk dikonsumi manusia. Untuk itu, Allah membuat seperangkat aturan tentang etika makan. Zat yang boleh dimakan, yang diharamkan, cara makan, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Nakes Jadi Korban Jiwa di Papua, Komisi IX Minta Tindak Lanjut PemerintahDalam al-Qur'an disebutkan, kurang lebih 26 ayat tentang perintah makan. Sementara ayat yang memerintahkan shalat hanya ada kurang lebih 16 ayat. Hal ini bukan berarti harus lebih banyak makan dari pada shalat.
Perintah tentang makan ternyata tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan makan saja. Melainkan, selalu diakhiri dengan catatan (embel-embel), seperti, makanlah dan bersyukurlah, atau makanlah dan jangan berlebih-lebihan.
Pada intinya, perintah makan bukan sebatas mengisi isi perut saja, seperti halnya yang dilakukan binatang. Namun, anjuran untuk bersikap apik saat makan dan bukan asal makan. Karenanya, taatilah ketentuan agama tentang etika makan.
Baca Juga: Arab Saudi: Dosis Ketiga Vaksin Covid-19 Tidak PerluSebagaimana Allah SWT Berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah." (QS Al-Baqarah: 172).
Adapun doa makan yang disunnahkan Rasulullah dalam hadits shahih Bukhari dinyatakan sebagai berikut,
Dari Abi Umamah radiallahu anhu, sesungguhnya Nabi SAW apabila telah membuka hidangan makanannya, beliau membaca,
الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، غَيْرَ مَكْفِىٍّ ، وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ ، رَبَّنَا
Alhamdulillahi Katsiran Thayyiban Mubarakan Fihi Ghaira Makfiyyin wa Laa Muadda'in wa Laa Mustaghnan anhu RabbanaArtinya: Segala puji bagi Allah (kupanjatkan kepadaNya) sebanyak-banyak puji, sebaik-baik puji, puji yang penuh berkah dengan tidak membutuhkan pemberian dan titipan serta tidak memerlukannya sedikitpun wahai Tuhan kami. (H.R. Bukhari)
Baca Juga: Susah Bersaing, Gobel Minta Pemerintah Lindungi Pemasok Kecil dan MenengahDalam buku Etika Hidup Seorang Muslim karya KH Aceng Zakaria, maksud do'a tersebut yakni memuji Allah dengan pujian-pujian yang baik dan penuh berkah atas anugerah yang Dia berikan kepada kita berupa makanan, minuman dan yang lainnya. Semua itu Allah berikan kepada kita dengan tidak pernah kita menitipkan dulu sesuatu atau memberikan sesuatu kepada-Nya.
Lain halnya dengan manusia, dia memberikan sesuatu karena mengharapkan imbalan dari yang diberinya. Seperti halnya aturan bank, baru memberikan bunga jika seseorang terlebih dahulu menitipkan uang kepadanya.
Adapun doa setelah makan adalah sebagai berikutDari Abi Sa'id Al-Khudriy Ra, sesungguhnya Rasulullah SAW apabila selesai makan, berdo'a,
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Al Hamdulillahi Alladzi Ath Amana wa Saqana wa Ja'alana MusliminArtinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kepada kami, telah memberi minum dan menjadikan kami orang yang berserah diri. (H.R. Abu Daud)
Baca Juga:
Menengok Dapur Rekaman Nasyid Gontor, Dakwah Santri Lewat Karya Seni
Masjid Baru di Tokyo Gelar Shalat Jumat Pertama Kali(asf)