LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Kamar Dagang Indonesia (KADIN) mengungkap data hanya sekitar 3 persen pelaku usaha yang telah memiliki
sertifikat halal.
Hal tersebut disampaikan dalan Kumparan Halal Forum 2025 pada 27 Mei 2025 lalu di Jakarta.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal (LPH)
LPPOM, Muti Arintawati, mengungkap sejumlah faktor yang menjadi penyebab atas rendahnya adopsi sertifikasi halal di Indonesia.
Baca juga: BSI Genjot Pertumbuhan UMKM Lewat Sertifikasi Halal, Digitalisasi, dan Pembiayaan Hingga Rp25 MMenurut Muti, faktor pertama adalah kewajiban sertifikasi halal belum
tersosialisasikan dengan baik.
“Kalau menurut pandangan kami, faktor pertama memang masih belum tersosialisasikan dengan baik tentang wajibnya sertifikasi halal. Baik untuk produsen maupun konsumen,” ujar Muti.
Kemudian, faktor selanjutnya adalah penerapan regulasi. Muti menyebut, ketidakpastian tenggat waktu dan kebijakan
relaksasi menjadi faktor penyebab banyak
pelaku usaha akhirnya mengambil sikap
wait and
see. "Konsistensi penerapan regulasi. Ada tenggat waktu yang ternyata ada beberapa relaksasi atau perpanjangan masa penahapan, sehingga kami rasakan sendiri tahun lalu, Oktober 2024, terasa sekali
pendaftaran itu meningkat. Karena semua takut kalau sampai terkena
deadline, maka akan kena sanksi. Tapi kemudian sanksi belum diberlakukan,” jelasnya.
Tantangan lainnya datang dari persepsi
UMKM terhadap prosedur sertifikasi yang dinilai masih rumit.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap informasi yang valid turut menjadi kendala tersendiri.
Baca juga: Babe Haikal: Skincare Wajib Bersertifikasi Halal Mulai 2026“Ada keluhan dari UMKM yang menyebutkan bahwa prosedur masih agak rumit. Kemudian akses informasi yang masih terbatas yang dirasakan. Meskipun jika kita kulik lagi, sebenarnya tidak benar juga,” ujarnya.
Namun di balik berbagai tantangan tersebut, Muti tetap optimistis.
Ia menegaskan bahwa angka 3 persen bukanlah alasan untuk patah semangat, melainkan batu loncatan awal menuju capaian yang lebih besar.
“Jadi beberapa hal yang menyebabkan angka tersebut masih rendah, tapi rasanya tidak menjadi kemudian kita berkecil hati. Ini merupakan langkah awal di mana kita berusaha bersama untuk terus mencapai target apa yang sudah dicanangkan pemerintah,” tegasnya.
(est)