Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 31 Agustus 2026
home wisata halal detail berita

Sejarah Kopi yang Menjadi Energi dalam Peradaban Islam

fajar adhitya Jum'at, 01 Oktober 2021 - 06:50 WIB
Sejarah Kopi yang Menjadi Energi dalam Peradaban Islam
Sejarah kopi yang menjadi energi dalam peradaban Islam. (Foto: Pixabay).
LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarah kopi ternyata pernah menjadi energi dalam peradaban Islam. Masyarakat Yaman mulai membudidayakan biji kopi sekitar abad ke-10, tapi konon kisahnya kopi ditemukan sejak abad ke-7.

Kala itu seorang penggembala kambing bernama Kaldi di Ethiopia sedang memberi pakan ternaknya di padang liar. Lalu dia melihat salah satu hewan tersebut berenergi setelah memakan buah dari semak-semak liar.

Kaldi pun penasaran dan mencicipinya, tak lama tubuhnya merasakan sensasi serupa. Ia merasakan ada semacam energi aneh muncul dalam tubuhnya, sampai-sampai ia menari dan memutar-mutar tubuhnya akibat sensasi itu.

Baca Juga: Hari Kopi Sedunia, Minuman yang Tren di Mekkah hingga Eropa

Kisah Kaldi menjadi cerita yang paling fenomenal ketika membahas asal muasal kopi dalam peradaban Islam. Dalam literatur sejarah, kapan tepatnya kopi muncul belum dapat diketahui pasti.

Namun, risalah kopi dapat ditelusuri dari kebudayaan masyarakat Yaman yang telah melakukan pembudidayaan biji kopi sekitar abad ke-10.

Alih-alih memakannya dalam bentuk biji, orang Yaman merebusnya untuk menghasilkan minuman. Ada juga konsensus bahwa pengguna pertama kopi adalah para sufi yang menggunakannya sebagai stimulan untuk tetap terjaga selama dzikir malam.

Tradisi meminum kopi bersemi dalam tarekat sufi Syadziliyah yang didirikan Syaikh Ali bin Umar Asy Syadzili, seorang wali yang makamnya dianggap keramat di Mocha.

Syekh Abul Hasan Asy Syadzili mengetahui bahwa biji sejenis beri itu dapat membuat terjaga ketika disajikan dalam bentuk minuman yang kelak dikenal sebagai qahwa (kopi).

Ralph S Hattox mengutip catatan Fakhr Al Din Abu Bakr Ibn Abi Yazid Al Makki, mengisahkan bahwa kelompok sufi dari tarekat Syadziliyah biasa membuat qahwa dari daun Al Gat, daun yang dapat memberi efek stimulan.

Namun, suatu kali, komoditas Al Gat di Aden mengalami kelangkaan. Syaikh Jamaludin Al Dhabbani, mufti Aden lalu menginstruksikan pengikutnya untuk menggunakan Bunn.

Penggunaan Bunn sebagai pengganti daun Al Gat didapatnya ketika Syaikh Jamaludin melakukan perjalanan ke Persia. Ia melihat beberapa orang sebangsanya sedang minum kopi.

Sekembalinya ke Aden, dia jatuh sakit dan memutuskan untuk mencobanya meminum ramuan dari biji Bunn tersebut untuk memulihkan kesehatan.

Ternyata, efeknya menakjubkan, Syaikh Jamaludin merasa tubuhnya semakin bugar dan berkualitas. Di antaranya adalah meredakan sakit kepala, membangkitkan semangat, dan mencegah kantuk.

Karena itulah, ia lalu merekomendasikan anggota tarekat meminum kopi agar terjaga sepanjang malam untuk berdoa dan berdzikir.

Kopi sebagai ramuan penyembuh ternyata tercatat pada kitab Qānūn fī At Ṭibb atau Canon of Medicine karya Ibnu Sina pada abad ke-9 atau 10.

Ibnu Sina menyebutkan manfaat dari kopi seperti menyegarkan badan, membersihkan kulit, mengeringkan kelembaban kulit dan memberi aroma yang harum bagi tubuh.

Kopi menyebar ke seluruh Muslim Yaman dan akhirnya ke seluruh dunia Jazirah Arab melalui para musafir, peziarah, dan pedagang.

Tradisi minum kopi mencapai Mekah dan Turki sekitar akhir abad ke-15. Boleh dibilang, orang Arab-lah yang merevolusi cara menyajikan dan menikmati kopi.

Pengaruh Arab di skena kopi kelak dijadikan nama spesies biji kopi Arabika. Sejarah kopi arabika juga mengantarkan pada pengenalan roasting atau pemanggangan kopi.

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 31 Agustus 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:57
Ashar
15:14
Maghrib
17:56
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan