LANGIT7.ID-Di lorong-lorong sunyi masjid, di tikungan sepi pasar, bahkan di sela-sela deru lalu lintas kota, manusia kerap terdengar melafalkan bisikan yang sama: doa. Sepotong pengakuan bahwa ada Dzat yang lebih besar, yang mendengar permohonan mereka.“Dan Tuhanmu berfirman:
‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu’,” begitu bunyi firman Allah dalam Q.S Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَAyat ini seperti sebuah ajakan halus sekaligus peringatan keras. Ajakan untuk mengetuk pintu langit, peringatan untuk tidak pongah merasa bisa sendiri.Ali bin Muhammad Al Mawardi, dalam tafsir
Al Nukat wa Al 'Uyun, mengutip As Sadiy yang memaknai kata
ud’uni di sini sebagai perintah untuk meminta segala sesuatu hanya kepada Allah. Sebuah sikap pengakuan bahwa manusia tak berdaya tanpa rahmat-Nya.Di antara semua doa, ada satu yang paling sering
Rasulullah SAW ucapkan. Bukan doa yang panjang dan rumit, tetapi sederhana dan padat: doa sapu jagat. Doa yang mencakup seluruh kebaikan dunia dan akhirat sekaligus.
Baca juga: Singgung Krisis Kemanusiaan di Gaza, Lana Del Rey: Saya Berdoa untuk Palestina Diriwayatkan dari Anas bin Malik, para sahabat menyaksikan sendiri bahwa ini adalah doa favorit Nabi:
عن أنس قال كان أكثر دعاء النبي صلى الله عليه وسلم اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النارArtinya, “Dari Anas, ia berkata, ‘Kebanyakan doa yang dibaca Rasulullah SAW adalah
Allāhumma, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār,’” (HR Bukhari dan Muslim).Lafalnya sederhana:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِArtinya, “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”Doa ini termaktub dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 201. Sebuah permintaan sederhana yang mencakup seluruh harapan manusia: sehat, damai, cukup di dunia; selamat dan bahagia di akhirat.Ibnu Abbas pernah meriwayatkan sebab turunnya ayat ini. Ada sekelompok orang Arab yang datang ke Arafah saat wukuf hanya berdoa untuk hujan, kesuburan, dan keberkahan tanah. Tak sedikit pun menyebut akhirat. Maka turunlah ayat teguran, lalu datanglah orang-orang beriman dengan doa yang lebih lengkap: memohon dunia dan akhirat sekaligus.Para ahli tafsir memperluas makna “kebaikan dunia” dan “kebaikan akhirat” itu. Fakhruddin al-Razi menyebut kebaikan dunia sebagai hidup yang aman, anak dan istri yang saleh, rezeki yang halal dan cukup, serta terhindar dari marabahaya. Kebaikan akhirat adalah surga dan ridha Allah.
Baca juga: Regulasi Rumah Doa Dipercepat, Kemenag Akui PBM 2006 Belum Atur Ibadah Privat Ibnu Katsir bahkan lebih rinci: tubuh yang sehat, rumah yang lapang, ilmu yang bermanfaat, pasangan yang menyenangkan, kendaraan yang nyaman, hingga kehormatan diri yang terjaga. Semuanya termasuk dalam kebaikan dunia.Namun, apakah kebaikan dunia itu hanya harta, keluarga, dan kesehatan? Suatu hari, para Tabi’in bertanya pada Ibnu Abbas tentang apa itu kebahagiaan dunia. Sang sahabat menjawab dengan tujuh indikator kebahagiaan yang menjadi pelajaran abadi bagi umat Islam.Pertama,
qalbun syakirun, hati yang selalu bersyukur. Jiwa yang lapang menerima ujian dan nikmat dengan tenang. Kedua,
al-azwaju shalihah, pasangan hidup yang saleh, yang menciptakan rumah tangga yang penuh iman.Ketiga,
al-awladul abrar, anak-anak yang saleh, yang doanya menjadi penyelamat orang tuanya. Keempat,
al-biatul shalihah, lingkungan yang baik, teman-teman yang mengingatkan pada kebaikan.Kelima,
al-malul halal, harta yang halal, karena dari situlah doa-doa lebih mudah dikabulkan. Keenam,
tafakuh fi dien, semangat belajar agama, yang membuat hati hidup dan bercahaya. Dan terakhir, ketujuh, umur yang barokah — semakin tua semakin dekat dengan Allah, semakin bersih jiwanya.Doa sapu jagat adalah ringkasan dari semuanya. Dengan melafalkannya, kita seperti merangkum seluruh permintaan manusia dalam satu sapaan yang santun kepada Sang Maha Mendengar.
Baca juga: Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun Di zaman serba cepat, saat banyak orang merasa cukup dengan usahanya sendiri, doa kerap dianggap hanya pelengkap. Padahal doa bukan hanya meminta, tapi juga pengakuan: bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri kita, yang lebih paham, yang lebih kuasa.Dan kita semua, pada akhirnya, hanya tamu sebentar di bumi yang sibuk mengetuk-ngetuk langit, sambil berbisik:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِTuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.
(mif)