LANGIT7.ID- Nama
Nabi Daniel memang tidak tercantum dalam Al-Qur’an, namun diakui sebagai nabi oleh mayoritas ulama Islam. Ia disebut dalam banyak literatur tafsir klasik, riwayat
Israiliyyat, dan juga kitab suci
Yahudi dan
Kristen. Sosoknya berada di persimpangan tiga tradisi agama samawi, dan nubuatnya dipercaya menjangkau dua zaman: kelahiran
Isa bin Maryam dan diutusnya
Muhammad SAW.
Daniel diyakini hidup pada abad ke-6 SM, ketika Yerusalem jatuh ke tangan Raja Nebukadnezar dari Babilonia. Bersama kaum Bani Israil lainnya, Daniel ditawan dan dibawa ke Babilonia. Tetapi statusnya sebagai tahanan tak menghalangi takdirnya: ia justru memperoleh kedudukan terhormat di istana raja. Ia dikenal sebagai orang yang bijaksana, ahli tafsir mimpi, dan penyampai wahyu.
Kisahnya yang paling masyhur adalah saat ia dilemparkan ke kandang singa oleh penguasa zalim karena menolak menyembah berhala. Allah menyelamatkannya; singa-singa itu justru duduk jinak di sisinya. Dalam riwayat Islam, Nabi Irmiya (Jeremiah) mendatanginya di kandang itu, membawakannya makanan dan minuman atas perintah Allah.
Ibnu Taimiyah mencatat nubuat Daniel yang menyebut nama Muhammad secara gamblang: “Anak-anak panah akan terlepas dari busur-busur, dan anak-anak panah itu akan dinodai darah, wahai Muhammad,” demikian potongan nubuat itu. Nubuat tentang kemunculan Isa al-Masih pun diakui, sejalan dengan tradisi
Nasrani.
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan Nama Daniel muncul juga dalam sejarah ekspedisi Islam ke Persia. Pasukan muslim menemukan jasad yang utuh — tak dimakan tanah, tak membusuk — di dekat kota Hurmuzan. Pemimpin pasukan, Abu Musa al-Asy’ari, menulis surat kepada Khalifah
Umar bin Khattab. Umar menjawab: “Ia adalah salah satu nabi. Api tidak memakan jasad para nabi, dan bumi tidak memakan jasad para nabi.”
Untuk mencegah praktik pengultusan kubur, jasad Daniel kemudian dikubur kembali di dasar sungai pada malam hari oleh Abu Musa dan pasukan muslim.
Makam Nabi Daniel sendiri hingga kini masih misterius. Ada setidaknya enam lokasi yang diklaim sebagai makamnya: di Susa, Malamir, Babilonia, Kirkuk, Mugdadiyah, hingga Samarkand. Teori paling populer menyebut Susa, yang kini berada di provinsi Khuzestan, Iran. Tetapi jaraknya dengan Hormuz — tempat jasad ditemukan — lebih dari 1.300 kilometer, sehingga masih menjadi bahan perdebatan.
Baca juga: Kebangkitan Barat yang Tanpa Tuhan: Ketika Pabrik Menjadi Kuil, dan Insinyur Menjadi Nabi Di kalangan Yahudi, Daniel dianggap hanya sebagai orang saleh yang mendapat ilham, bukan nabi. Di kalangan Nasrani, ia adalah nabi yang menubuatkan Yesus. Bagi umat Islam, ia nabi yang menegakkan tauhid di tengah tirani Babilonia.
Kitab Daniel — bagian dari Tanakh — memang dihormati semua tradisi sebagai teks yang memuat nubuat masa depan. Tetapi tafsir atas nubuat itu berbeda-beda. Umat Yahudi mengaitkannya dengan kemenangan Israel; umat Kristen memaknainya sebagai ramalan tentang Yesus; sementara umat Islam melihatnya sebagai ramalan tentang kedua nabi besar: Isa dan Muhammad.
Seperti firman Allah dalam QS Ash-Shaff:6: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
Nubuat tentang Muhammad yang terucap dari lidah Daniel, dari abad ke-6 SM, mengajarkan satu hal: wahyu memang melintasi zaman dan kerajaan, disampaikan dari nabi ke nabi, sampai kepada umat terakhir.
Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa(mif)