Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 15 Mei 2026
home masjid detail berita

Jalan Tengah Antara Iman dan Amal: Upaya Menakar Amal dalam Timbangan Prioritas

miftah yusufpati Senin, 04 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Jalan Tengah Antara Iman dan Amal: Upaya Menakar Amal dalam Timbangan Prioritas
Sedikit yang terus-menerus lebih baik daripada banyak yang terputus. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah?”

Pertanyaan retoris dalam Surah at-Taubah ayat 19 itu menggugah logika moral manusia. Allah menegaskan bahwa perbuatan memiliki tingkatan, dan iman bukanlah soal ritual semata.

Ayat itu menjadi pijakan awal bagi Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam buku Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996) untuk membangun argumen tentang hierarki amal dalam Islam. Ia menolak penyamaan antara perbuatan simbolik dengan perjuangan substantif. Dalam pandangannya, tak semua amal bernilai setara, sekalipun sah secara fikih.

Fiqh tradisional, kata al-Qardhawi, sering kali gagal menimbang nilai amal dari sisi kebermanfaatannya, kontinuitasnya, dan dampak sosialnya. Maka muncullah apa yang ia sebut sebagai fiqh tanpa skala prioritas: sibuk pada yang kurang penting, abai pada yang lebih utama.

Baca juga: Jalan Bertahap Menuju Masyarakat Islam: Menelusuri Fikih Transformasi Sosial ala Qardhawi

Hadis riwayat Abu Hurairah yang menyebut iman memiliki “lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang” memperlihatkan dengan jelas, menurut al-Qardhawi, bahwa tidak semua iman berdiri di satu dataran. Yang tertinggi adalah kalimat tauhid, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.

“Ini bukan sekadar urutan simbolik,” tulis al-Qardhawi. “Melainkan struktur iman yang punya tingkatan, klasifikasi, dan tangga amal.”

Logika ini diperkuat oleh penilaian Allah sendiri dalam Al-Qur'an terhadap tiga kelompok:

1. Orang yang memberi minuman kepada jamaah haji.
2. Orang yang memakmurkan Masjid al-Haram.
3. Orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya.

Mereka tidak sama, tegas Al-Qur'an. Dan mereka dinilai bukan hanya dari apa yang dilakukan, tetapi juga mengapa dan dalam konteks apa.

Baca juga: Membaca Ulang Aturan dalam Keadaan Terpaksa: Fikih Tak Sekadar Larangan

Terus-Menerus, Bukan Terputus

Dalam narasi lain, al-Qardhawi menyoroti hadis-hadis tentang pentingnya amal yang langgeng. Dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih dari Aisyah r.a., Rasulullah saw bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling langgeng, walaupun sedikit.”

Nabi tidak mengapresiasi amalan yang berlebihan, meskipun tampak semangat. Dalam sebuah kesempatan, ketika beliau melihat seorang wanita yang rajin salat sampai terkenal di masyarakat, beliau justru mengeluh, “Aduh, lakukanlah apa yang kamu mampu.”

Peringatan keras itu bukan tanpa sebab. Nabi melihat kecenderungan sebagian orang menumpuk amal dalam tempo singkat—penuh gairah di awal, lalu bosan dan berhenti di tengah jalan. “Allah tidak bosan sampai kamu sendiri yang bosan,” sabda beliau.

Langgengnya amal menunjukkan kedewasaan spiritual. Tidak hanya soal kemauan, tapi juga kesanggupan, kebijaksanaan, dan orientasi jangka panjang.

Memilih yang Paling Bernilai

Dalam Fiqh Prioritas, al-Qardhawi memberi penekanan: prioritas amal harus berangkat dari ukuran kemaslahatan, bukan semata-mata legalitas. Amal yang berdampak luas harus lebih didahulukan daripada amal yang terbatas manfaatnya.

Ia mengkritik fenomena pemeluk Islam yang terlalu menekankan ritual-ritual individual namun abai terhadap masalah umat: kemiskinan, ketidakadilan, keterbelakangan pendidikan.

Baca juga: Jalan Terang Menuju Kemudahan: Pelajaran Fikih Prioritas untuk Zaman yang Sarat Kepayahan

“Apakah wajar,” tulisnya, “kita sibuk mendiskusikan panjang janggut atau model celana, sementara kemiskinan dan penindasan di Palestina, Sudan, atau Rohingya kita abaikan?”

Maka fiqh prioritas adalah ajakan untuk sadar skala. Memilih amal yang paling mendesak, paling berdampak, paling berkelanjutan. Seorang guru yang mengajar anak-anak miskin agar mereka bisa membaca Al-Qur'an dan sains, bisa jadi lebih utama ketimbang orang yang menghabiskan waktu untuk amalan-amalan tambahan yang tak berdampak luas.

Tetapi al-Qardhawi juga memberi batas. Dalam semangat memprioritaskan amal, ia mengingatkan untuk tidak jatuh pada kekakuan atau radikalisme dalam beragama.

Rasulullah saw sendiri memperingatkan agar tidak terlalu mempersulit diri. Dalam sebuah hadis, beliau berkata, “Janganlah kamu memperketat diri sendiri, karena orang-orang sebelum kamu binasa karena memperketat diri mereka sendiri.”

Kisah Buraidah memperlihatkan hal itu. Suatu ketika, Nabi melihat seseorang yang memperlama ruku’ dan sujud. Alih-alih memuji, beliau justru membetulkan tangan orang itu dan bersabda, “Ikutilah petunjuk yang pertengahan.”

Amal yang ekstrem bukan hanya berisiko pada kebosanan, tetapi juga bisa merusak spirit agama itu sendiri.

Baca juga: Ketegangan Politik dan Lahirnya Dua Mazhab Besar Fikih Islam

Menuju Amal yang Cerdas dan Bijaksana

Fiqh Prioritas adalah ajakan untuk bertindak cerdas dalam beragama: mengukur kapasitas diri, memilih amal yang memberi manfaat luas, dan tetap berada dalam koridor keseimbangan.

Agama, bagi al-Qardhawi, bukan sekadar hukum yang datar, melainkan medan nilai yang harus dibaca dengan konteks. Dan dalam dunia yang penuh ketimpangan ini, amal yang cerdas—yang langgeng, terukur, dan memberi solusi—lebih dibutuhkan daripada ritual yang megah namun terputus dan tertutup.

Sebab, seperti peribahasa Arab yang dikutip al-Qardhawi: “Sedikit yang terus-menerus lebih baik daripada banyak yang terputus.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 15 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)