Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Dari Sunah yang Terlupakan hingga Bidah yang Membudaya: Urgensi Tajdid Hari Ini

miftah yusufpati Selasa, 05 Agustus 2025 - 17:00 WIB
Dari Sunah yang Terlupakan hingga Bidah yang Membudaya: Urgensi Tajdid Hari Ini
Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah derasnya arus zaman yang menyeret akal manusia ke tepi-tepi modernitas, agama menjadi oase yang kian dirindukan. Bukan semata ritual, melainkan sebagai standar moral dan peta jalan kebenaran. “Risalah agama adalah kebutuhan pokok manusia yang tidak mungkin dilepaskan,” tulis Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa. Dalam pandangan Syaikhul Islam ini, agama bahkan lebih urgen daripada kebutuhan terhadap makanan dan minuman.

Pandangan itu diperkuat oleh muridnya, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. “Kebutuhan manusia terhadap para rasul lebih mendesak daripada kebutuhan tubuh terhadap roh dan mata terhadap cahaya,” tulisnya dalam Zaad al-Ma’ad. Tanpa agama, manusia hanya akan terombang-ambing oleh hawa nafsu dan relativisme nilai.

Namun keyakinan bahwa Islam akan selalu terjaga tidak menafikan fakta bahwa dalam praktik, umat Islam kerap menjauh dari roh ajaran yang dibawa Rasulullah SAW. Penyimpangan muncul dalam bentuk bid’ah, pelunturan akidah, hingga stagnasi pemikiran keagamaan. Di sinilah letak pentingnya tajdîd, pembaharuan agama.

“Agama adalah cahaya Allah di bumi, keadilan-Nya di antara para hamba, serta benteng keselamatan bagi siapa saja yang memasukinya,” tulis Ibnu Taimiyah lagi dalam Majmu’ al-Fatawa.

Baca juga: Ustaz Haris: Pemilihan Tema Muktamar Sesuai dengan Semangat Tajdid

Menyingkap Makna Tajdid

Istilah tajdîd bukanlah buatan para aktivis masa kini. Ia bersumber langsung dari sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini, pada setiap awal seratus tahun, orang yang akan memperbarui agama mereka.” (HR. Abu Daud no. 3740, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 599)

Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, tajdîd bermakna menghidupkan kembali ajaran agama yang nyaris pudar, bukan menciptakan ajaran baru. Kata tajdîd berasal dari akar kata jaddada, yang menurut Bisthami Muhammad Sa’id dalam Mafhum Tajdid ad-Din mengandung makna menghidupkan (ihya’), membangkitkan (ba’ts), dan mengembalikan (i’âdah).

“Tujuan dari tajdîd adalah mengembalikan kecemerlangan Islam, menghidupkan sunnah dan syiarnya, serta membersihkannya dari kebid’ahan dan khurafat,” tulis DR. Thaahir Mahmud Muhammad Ya’qub dalam Asbaabul Akhthaa’ Fit Tafsir.

Baca juga: Sengkarut Ijtihad Dua Sahabat Nabi: Ketika Ibnu Umar Menyanggah Ibnu Abbas
Siapa Sang Mujaddid?

Namun, tidak semua orang yang meneriakkan reformasi agama layak disebut mujaddid. Menurut Al-Munâwi dalam Faidhul Qadir, tajdîd yang sahih adalah yang dilakukan oleh para ulama di tiap akhir abad, bukan oleh siapa saja yang mengaku ingin memperbaharui agama tetapi justru menyusupkan pemikiran asing ke dalam tubuh Islam.

Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa sang mujaddid adalah orang yang menghidupkan sunnah Nabi dan menolak kedustaan atas namanya (Târîkh al-Baghdâdî). Abu Sahli ash-Shu’lûki, ulama abad ke-4 Hijriyah, bahkan menganggap Imam Ahmad sebagai pembaharu yang telah “mengembalikan syiar-syiar agama yang telah hilang” (Tabyiin Kadzib al-Muftari).

Karakteristik mujaddid, menurut Prof. Muhammad bin Abdulaziz al-‘Ali dalam Tajdîd ad-Dîn, Mafhum wa Dhawâbit wa Atsâruhu, mencakup:

- Menyebarkan ilmu dan menjelaskan sunnah
- Menghapus bid’ah
- Membela akidah yang benar
- Menghidupkan amal saleh dan ibadah yang telah dilupakan
- Mengembalikan umat kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salaf

Baca juga: Syariat, Ijtihad, dan Taqlid: Pergulatan Umat Mencari Jalan Tuhan dalam Dunia yang Berubah

Meluruskan Kesalahpahaman

Sayangnya, istilah tajdîd kerap disalahpahami. Sebagian menyamakannya dengan liberalisasi ajaran, bahkan melemahkan fondasi agama atas nama kontekstualisasi. Ada pula yang menjadikan tajdîd sebagai tameng bagi proyek ideologis tertentu. Padahal, tajdîd bukan gerakan politik, bukan pula eksperimen teologis.

“Pengajaran agama, menghidupkan sunnah dan menolak kedustaan—itulah tajdîd,” tegas Imam Ahmad.

Di tangan ulama salaf, tajdîd adalah upaya merestorasi, bukan mendekonstruksi. Membela, bukan menggugat. Mengajak umat kembali ke pokok ajaran Islam, bukan mengotak-atiknya sesuai selera zaman.

Pentingnya tajdîd bahkan ditegaskan oleh Nabi dalam konteks individual. Dalam hadits yang diriwayatkan al-Hakim dan dinilai sahih oleh Al-Albani (Silsilah Ash-Shahihah no. 1585), Rasul bersabda: “Sesungguhnya iman dalam hati kalian bisa usang sebagaimana baju bisa usang. Maka mintalah kepada Allah agar diperbaharui iman itu dalam hati kalian.”

Tajdîd bukan hanya agenda kolektif keummatan, tetapi juga panggilan spiritual personal. Ia adalah energi pembaruan dalam batin, yang menjaga seseorang dari keterlenaan dan stagnasi iman.

Baca juga: Syaikh Al-Qardhawi Kritisi Pengikut Manhaj Salaf yang Justru Menyalahi ijtihad Mereka

Di Ujung Abad, Di Tengah Kemunduran

Realitas umat Islam hari ini memperlihatkan kebutuhan mendesak akan tajdîd. Di satu sisi, derasnya modernisasi menggiring sebagian kaum Muslimin pada sekularisasi halus. Di sisi lain, stagnasi pemikiran dan fanatisme buta menyebabkan agama dijadikan alat justifikasi kekuasaan atau status sosial.

Tajdîd dalam makna salafiyah—bukan dalam pengertian politik, ideologi, atau label golongan—menjadi jawaban atas dua arus yang sama bahayanya ini. Yakni menghidupkan kembali agama dalam makna aslinya, menjaga kemurnian aqidah, mempertegas sunnah, dan membasmi bid’ah.

Seperti terang bintang dalam gelap malam, tajdîd adalah upaya untuk menghidupkan cahaya Islam di tengah kabut zaman.

“Sesungguhnya ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya di setiap generasi. Mereka akan menghapus penyelewengan orang ekstremis, takwil orang jahil, dan kebohongan kaum pendusta.” (HR. al-Baihaqi; dinilai hasan dalam Hilyatul ‘Alim al-Mu’allim hlm. 77)

Baca juga: Taqlid dan Ijtihad Mengacu Surat Khalifah Umar Bin Kattab kepada Abu Musa al-Asy'ari

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)