Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Antara Ekstase dan Bidah: Ketika Darwis Menari dalam Pusaran Fatwa

miftah yusufpati Rabu, 06 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Antara Ekstase dan Bidah: Ketika Darwis Menari dalam Pusaran Fatwa
Dalam diam, tubuh-tubuh itu menari dalam pusaran pencarian spiritual. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di sebuah ruangan senyap beraroma dupa, lantunan pujian kepada Tuhan menggema dari bibir para darwis. Mereka berdiri tegak, tangan menyilang di dada, lalu satu per satu melepas jubah hitam, memperlihatkan pakaian putih longgar berbentuk rok. Setelah membungkuk hormat, tubuh-tubuh itu mulai berputar perlahan. Lambat, lalu kian cepat. Wajah mereka menengadah ke langit, mata terpejam, hingga gerakannya bak pusaran rohani.

Inilah tarian samâ’ atau lebih dikenal dengan Whirling Dervishes, ritual spiritual yang dipopulerkan Jalaluddin Rumi, penyair sufi besar abad ke-13 dari Konya, Anatolia. Bagi sebagian umat Islam yang berada di jalur tasawuf, menari bukan sekadar ekspresi seni atau budaya, melainkan jalan menuju ekstase spiritual — fanâ — tempat jiwa melebur dalam kehadiran Ilahi.

Namun, tidak semua memandang gerakan memutar ini sebagai jalan yang benar menuju Tuhan. Di sejumlah forum keagamaan, samâ’ justru diposisikan sebagai ritual sesat yang menyaru ibadah, bahkan dicap sebagai bentuk permainan yang melanggar prinsip-prinsip dasar syariat.

Baca juga: Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah

Antara Zikir dan Zaman

Dalam naskah-naskah klasik tasawuf seperti Ihyâ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali dan al-Luma’ karya Abu Nasr as-Sarraj, samâ’ dijelaskan sebagai metode memperhalus hati dan memperkuat mahabbah (cinta kepada Allah). Al-Ghazali menyatakan bahwa menari atau mendengar musik rohani dapat menggugah kesadaran spiritual, selama dilakukan dalam bingkai kesungguhan dan keimanan. “Tidak setiap yang tidak dilakukan Nabi adalah terlarang,” tulisnya, menegaskan bahwa bid’ah tidak selalu berarti sesat.

Namun, pendapat itu langsung ditentang oleh para ulama tekstualis. Di antara yang paling keras adalah Ibnu Taimiyah, yang dalam berbagai fatwanya menegaskan: “Setiap bentuk ibadah yang tidak disyariatkan adalah bid’ah dan sesat.” Baginya, samâ’ adalah bentuk amalan baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad maupun para sahabat, sehingga otomatis gugur sebagai ibadah.

“Jika menari bisa mendekatkan diri pada Tuhan, tentu para sahabat akan berlomba-lomba melakukannya,” kata Syaikhul Islam dalam satu komentarnya.

Baca juga: Kisah Sufi Humor Nasrudin Hoja: Sepotong Keju

Dalil yang Mengunci atau Membuka?

Kritik terhadap tarian spiritual ini bukan sekadar dari aspek fiqh. Sejumlah ayat Al-Qur’an kerap dijadikan rujukan untuk mengharamkannya. Salah satunya adalah surat al-An’am ayat 70, yang mengecam mereka yang menjadikan agama sebagai permainan. Bagi para pengkritik, gerakan berputar sambil menari, meski dilandasi niat ibadah, tetaplah tergolong “sendagurau yang melalaikan”.

Mereka juga mengutip asy-Syura ayat 21, yang memperingatkan tentang bahaya membuat-buat ajaran baru tanpa izin Allah. “Apakah mereka memiliki tuhan selain Allah yang mensyariatkan bagi mereka agama yang tidak diizinkan-Nya?” bunyi ayat itu.

Lebih jauh, dalil yang kerap disebutkan adalah sabda Nabi yang populer dalam diskursus bid’ah: “Setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. an-Nasai)

Baca juga: Kisah Humor Sufi: Nasrudin dan Pencuri yang Malang

Di Antara Duka Tradisi dan Kekakuan Fikih

Di balik perdebatan dalil dan pendapat para ulama, terselip kecemasan yang lebih luas: bagaimana Islam memandang ekspresi spiritual dalam bentuk non-konvensional. Pada satu sisi, kekakuan fikih berisiko menafikan keberagaman ekspresi keimanan. Tapi di sisi lain, kelonggaran tafsir juga membuka pintu pembenaran terhadap hal-hal yang tak pernah disyariatkan.

Fenomena ini makin rumit ketika tarian sufi seperti sema dipertontonkan dalam festival budaya, pertunjukan teater, hingga paket wisata spiritual. Ritual yang semula dimaksudkan sebagai pengalaman rohani, kini berubah menjadi tontonan publik yang hilang sakralitasnya. “Tuhan ditari-tarikan di atas panggung,” kritik seorang pengkaji tasawuf kontemporer dari UIN Jakarta.

Baca juga: Kisah Humor Sufi: Jubah Nasrudin Hoja yang Jatuh

Jejak Rumi dan Jalan Tengah yang Retak

Dalam dunia tasawuf, Jalaluddin Rumi tetap dianggap suluh abadi. Puisinya melampaui zaman dan lintas mazhab. Namun, warisan Rumi tak jarang disalahpahami. Tariannya bukan untuk manusia melihat manusia, melainkan manusia melihat Tuhan. Tapi di era algoritma, gerakan darwis justru lebih sering viral sebagai konten estetik ketimbang spiritual.

Barangkali ini ujian bagi umat Islam hari ini: bagaimana menjaga semangat rohani tanpa menyalahi rambu-rambu wahyu. Sebab seperti kata Imam Malik, “Barang siapa membuat-buat dalam Islam sesuatu yang bukan bagian darinya, ia telah menuduh Rasulullah mengkhianati risalah.”

Mereka terus berputar. Dalam diam, tubuh-tubuh itu menari dalam pusaran pencarian spiritual. Tapi dunia di sekitarnya justru ribut. Ada yang melihat cahaya, ada pula yang menganggap itu hanya bayang-bayang khayal. Di antara dua kutub itulah, tarian samâ’ terus memutar nasibnya—antara ibadah dan bid’ah.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Jika Kau Percaya Ia Beranak, Percayalah Ia Bisa Mati

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)