LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Ibadah
puasa Ramadhan sering kali dipandang sebagai rutinitas menahan haus dan lapar. Dalam acara
Grand Opening Ramadhan
UGM 2026 di Grha Sabha Pramana, Selasa (17/2/2026),
Ustaz Wijayanto, menekankan bahwa
makna puasa jauh lebih dalam dari sekadar fisik, yakni sebagai sekolah kepedulian sosial.
"Kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Begitu pula, bila kamu tidak ingin kelaparan, jangan biarkan orang lain
kelaparan. Itulah esensi puasa, yakni melahirkan kepedulian sosial yang nyata," kata Ustaz Wijayanto pada Rabu (18/2/2026).
Baca juga: Melacak Makna Puasa dari Padang Pasir: Bukan Sekadar Urusan Perut yang KosongUstaz Wijayanto menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang moderat. Puasa bukan bertujuan untuk "menyiksa diri" atau membunuh nafsu sepenuhnya, melainkan untuk mengendalikannya.
"Islam adalah adalah agama moderat. Puasa sejatinya bukan untuk membunuh nafsu, melainkan untuk mengendalikan nafsu sementara. Sejak saat itu, dilarang melakukan puasa wishal atau puasa sambung. Maka ketika berpuasa disegerakan
berbuka dan akhirkanlah
sahur,” ungkapnya.
Inilah alasan mengapa dalam Islam dilarang melakukan puasa wishal, menyambung puasa tanpa berbuka, dan disunnahkan untuk menyegerakan berbuka serta mengakhirkan sahur.
Dikatakan Wijayanto, bulan Ramadhan merupakan bulan mulia yang kedatangannya senantiasa dirindukan, sebagaimana tradisi para sahabat Nabi terdahulu.
Ia kemudian mengupas terminologi "Ramadhan Karim", di mana kata Karim mencerminkan kekaguman luar biasa terhadap kemuliaan Ramadhan.
Sejarah mencatat, pada bulan Syakban tahun kedua Hijriyah, turun empat perintah besar yang menjadi pilar spiritual umat Islam, yakni peralihan arah kiblat, penetapan nisab zakat, anjuran bershalawat serta tuntunan
birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Baca juga: Muhammad Ali Sebut Puasa Ramadhan sebagai Disiplin Mental di Luar Ring TinjuPuasa dan Adab kepada Orang TuaSecara khusus, Ustaz Wijayanto mengingatkan bagi mereka yang berpuasa namun mengabaikan
adab kepada orang tua.
Beliau menegaskan bahwa orang tua adalah wasilah atau jalan menuju surga. Puasa seseorang dianggap tidak sempurna jika kewajiban sosial lainnya—seperti
zakat,
shalawat, dan hormat kepada orang tua—tidak dijalankan dengan baik.
"Gagal orang berpuasa, jika memiliki orang tua tapi tidak menjadikannya jalan untuk menuju surga. Jadikanlah orang tua sebagai wasilah menuju surga. Maka aneh jika seseorang berpuasa tapi puasanya tidak disempurnakan. Misalnya saja, zakatnya tidak jelas, shalawat pun tidak pernah, dan tidak memiliki hormat kepada orang tua,” tegas Ustaz Wijayanto.
(est)