Homestay Rohana, Simpul Hangat Persaudaraan Diaspora Indonesia di Penang
esti setiyowatiSelasa, 24 Februari 2026 - 08:00 WIB
Rohana, diaspora asal Aceh, yang kini menetap dan membuka bisnis di Penang, Malaysia. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID-, Georgetown - Perjalanan hidup manusia memang penuh liku dan kejutan. Hal inilah yang dirasakan oleh Rohana binti Hasboh, seorang perempuan tangguh lulusan SMEA Negeri Lhokseumawe yang kini sukses meniti karier sebagai pengusaha di Malaysia.
Siapa sangka, sosok yang akrab disapa Ana ini memulai langkahnya di Negeri Jiran sebagai seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sebuah pabrik pada tahun 1995 hingga 1997.
Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria asli Malaysia yang kini menjadi suaminya. Setelah melangsungkan pernikahan di tanah kelahirannya, Aceh, Ana akhirnya menetap di Penang, sebuah wilayah yang dikenal sebagai pusat wisata medis bagi warga Indonesia.
Melihat peluang besar di Georgetown, Penang, Ana membangun usaha homestayyang menjadi tempat bernaung bagi banyak pelancong, terutama mereka yang datang untuk keperluan medis seperti program bayi tabung atau operasi.
"Saat ini Kak Ana memiliki usaha homestay di Penang, Malaysia. Penang ini disebut kota pelancong perobatan. Banyak orang Indonesia yang kerap ke sini baik untuk melakukan bayi tabung atau operasi. Banyak dari mereka yang menginap di rumah Kak Ana," ungkapnya.
Dengan tarif yang kompetitif, mulai dari 55 hingga 150 Ringgit, homestay milik Ana bukan sekadar penginapan, melainkan "rumah kedua" bagi para perantau yang mencari kesembuhan.
Kejutan Budaya di Bulan Suci
Perbedaan tradisi Ramadhan antarnegara kerap memberikan kesan tersendiri bagi para perantau, tak terkecuali di Malaysia.
Meski memiliki kedekatan budaya dengan Indonesia, Malaysia menyimpan kebiasaan unik yang sempat mengejutkan Ana.
Ada satu pengalaman unik bagi Ana, panggilan akrabnya, saat pertama kali menjalani Ramadhan di negaranya Siti Nurhaliza. Ia sempat dibuat terkejut dengan pemandangan kedai makan yang tetap buka di siang hari.
"Awalnya Kak Ana sangat terkejutlah," kenangnya sambil tertawa saat dihubungi LANGIT7.ID.
Ana menceritakan bahwa warung di Malaysia tetap buka melayani pelanggan non-Muslim, namun bagi umat Muslim, pembelian makanan baru diperbolehkan setelah pukul 17.00 sore.
Meski sempat kaget, Ana kini sudah terbiasa dengan perbedaan aturan tersebut.
Selain itu, Penang juga memiliki keunikan tersendiri yang ia cintai. Salah satunya adalah tradisi makan bersama setelah shalat tarawih yang dilakukan hampir setiap hari.
Masjid di Penang juga menggelar tadarus yang kerap diikuti jamaah laki-laki. Menjelang 10 malam terakhir Ramadhan, kegiatan tadarus makin meriah dengan kehadiran jamaah perempuan dan anak-anak yang ikut beriktikaf di masjid.
Hampir tiga puluh tahun sudah Ana menetap di Penang, akan tetapi tak menghilangkan kerinduannya pada tanah kelahirannya. Terutama saat Ramadhan seperti saat ini.
Ana mengaku merindukan masakan ibu dan momen berbuka bersama keluarga besar di Aceh.
"Untuk mengobati kerinduan, Kak Ana pulang kampung ke Aceh menjelang Ramadhan," pungkasnya.
Kini, di sela kesibukannya sebagai pengusaha, Ana fokus mendukung pendidikan putrinya yang tengah menempuh bangku pendidikan tinggi.
Siapa sangka, sang putri pun mewarisi cinta ibundanya terhadap tanah kelahiran, ia selalu merindukan kemeriahan Ramadhan di Aceh yang penuh dengan kehangatan keluarga besar.
Kisah Rohana adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan adaptasi, seorang perantau mampu mengubah tantangan menjadi peluang tanpa pernah melupakan akar budayanya.