LANGIT7.ID, Jakarta - Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar berhasil menciptakan sistem peringatan dini bencana alam berbasis masjid bernama Mosque Brodcast Based Flood Early Warning System'. Alat ini bekerja sebagai atau sistem peringatan deteksi bencana banjir.
Karya riset mahasiswa dari UIN Alauddin Makassar terkait deteksi dan mitigasi bencana di Indonesia dipamerkan dalam Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, belum lama ini.
Salah satu dari tiga Mahasiswi UIN Alauddin Makassar yang bertindak sebagai tim perancang, Umu Kultsum mengatakan, Mosque Brodcast Based Flood Early Warning System adalah sistem peringatan deteksi bencana dengan memonitor ketinggian air. Alat ini akan merespon ketinggian debit air bendungan yang berpotensi menyebabkan banjir.
Baca Juga: Seni Islam Hadir dalam 6 Bagian di Masjid Agung Sheikh ZayedUmu Kultsum enjelaskan, Mosque Brodcast Based Flood Early Warning System akan menginfokan kepada warga apabila bendungan akan untuk mengalirkan air ke sungai. Perangkat ini akan mengabarkan ketinggian air bendungan.
"Tujuannya bisa menimalisir kerugian akibat bencana banjir, supaya masyarakat terbiasa menghadapi banjir," katanya dilansir uin-alauddin.ac.id, Selasa (30/11/2021).
Baca Juga: 5 Mall di Jakarta dengan Masjid dan Mushalla Sangat BaikIa menuturkan, rancangan produk sistem peringatan dini itu dengan memanfaatkan teknologi IoT atau internet of things dengan konsep penyiaran informasi terkait banjir melalui masjid. Masjid dipilih sebagai basis siaran karena dianggap sebagai lembaga terdekat dalam lingkungan masyarakat.
"Kenapa melalui toa masjid, karena masjid dianggap mampu memberikan kabar lebih cepat di tengah masyarakat," ujarnya.
Dia menjelaskan rancangan ini dibuat untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat secara real time dari badan pengawas, serta untuk menghindari berita hoaks terkait bencana. Mosque Brodcast Based Flood Early Warning System menggunakan perangkat keras Arduino sebagai salah satu kompomen.
Komponen itu ditempatkan pada sensor ketinggian di bendungan dan alat itu juga dipasang di masjid yang lokasinya tidak jauh dari sungai. Alat itu harus terpasang menggunakan wifi atau internet.
Baca Juga: Akses Jalan ke Desa Cinta Sudah Bisa Dilalui Kendaraan"Jadi, ketika alat itu dipasang di masjid atau mushala harus terkoneksi dengan internet. Kita tidak memerlukan wifi yang kuat banget sinyalnya," katanya.
Cara kerjanya, kata dia, alat sensor itu dipasang di daerah pintu bendungan dan alat itu mengidentifikasi ketinggian air di bendungan. Dari situ informasi ketinggian air tersampaikan ke penjaga bendungan.
Penjaga akan memberikan informasi berupa pesan suara sesuai dengan kondisi yang ada di bendungan ke masyarakat. Lalu, informasi dari penjaga akan tersebar ke masyarakat melalui operator masjid yang berada di tengah masyarakat.
Baca Juga: Mengenal Ragam Seni Dekorasi Ornamen Masjid"Sehingga masyarakat tahu jika air bendungan akan dibuka. Jadi imbauan kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar sungai, mencari ikan, bermain mencuci area sungai," ujarnya.
"Untuk tingkat bahaya, masyarakat diminta untuk mengungsi sementara dan diminta untuk mengamankan barang berharganya. Karena berpotensi banjir," katanya.
Baca Juga: Transformasi Esports dari Hiburan ke Industri yang Menjanjikan(zhd)