Pada abad ke-17, Belanda datang bukan hanya dengan kapal dan senapan, tapi juga kamus dan kebingungan. Dari Ambon hingga Leiden, mereka berusaha memahami Islamdan sering salah kaprah.
Dari Leiden hingga Batavia, para sarjana Belanda mencoba memahami Islam lewat kamus dan Injil. Tapi bahasa yang mereka salin tak sanggup menjangkau iman yang hidup di lidah dan jiwa orang Nusantara.
Awal abad ke-17, pelaut Belanda mendengar Stofferolla di masjid Aceh dan menulisnya sebagai mantra. Di balik salah dengar itu, tersimpan kisah benturan iman, bahasa, dan kekuasaan.
Di akhir abad ke-19, ketika tinta dan kuasa bertemu di Hindia Belanda, Sayyid Utsman dan para ulama Jawi menulis ulang peta otoritas Islam. Di balik pamflet, ada perebutan legitimasi dan pengaruh.
Sebuah fatwa dari Mekah tahun 1883 mengguncang dunia tarekat. Di balik perintah memusnahkan ajaran Sulayman Afandi, tersembunyi perebutan otoritas, percetakan, dan lahirnya Islam Jawi modern.
Dari batu kapur litograf, lahir kitab-kitab yang menyalin kalam suci dan menggandakan ilmu. Abad ke-19 menandai saat Islam tak hanya diajarkan di pesantren, tapi juga dicetak di atas kertas.
Pada abad ke-19, Mekah bukan hanya tempat beribadah, tapi juga ruang belajar dan jaringan intelektual yang mengubah wajah Islam di Nusantara. Dari perjalanan para haji lahir pesantren, tarekat, dan reformasi.
Dari bara perang di dataran tinggi Minangkabau, lahir semangat reformasi Islam yang mengguncang Nusantara. Dari Padri hingga madrasah, dari mistik ke rasionalitasdi sanalah ruang Muslim modern bertumbuh.
Pesantren bukan warisan Arab, tapi hasil perjumpaan tarekat Syattariyyah, patronase keraton, dan semangat rakyat desa menuntut ilmu di luar istana. Dari situ lahir wajah Islam Jawa yang khas.
Abad ke-18 menandai lahirnya pesantren: dari serambi masjid di bawah patronase raja, menjadi pondok independen tempat tarekat dan ilmu bertemu dalam satu ruang spiritual yang membumi.
Kini, tiga abad setelah itu, pertanyaan yang sama masih menggema: sejauh mana Islam di Nusantara masih menampung roh keterbukaan dan kebudayaan yang dulu menyambutnya?
Sufisme bukan sekadar jalan batin di Jawa abad ke-18. Ia menjelma kekuatan politik yang memicu pengasingan, pemberontakan, dan kejatuhan Pakubuwana II ke pelukan Belanda.
Menempuh jalan dari Gowa, Banten, hingga Cape Town, Syekh Yusuf menganyam ilmu, tarekat, dan perlawanan. Warisannya membuktikan: spiritualitas bisa menjadi senjata melawan kolonialisme.